Saturday, September 18, 2004

Puisi Tak Berjudul

Kenapa tak pernah kau tambatkan
perahumu di satu dermaga
padahal kulihat bukan hanya satu
pelabuhan tenang yang mau menerima
kehadiran kapalmu!

Kalaulah dulu memang pernah ada
satu pelabuhan kecil yang kemudian
harus kau lupakan
mengapa tak kau cari pelabuhan yang lain
yang akan memberikan rasa damai yang lebih?

Seandainya kau mau
buka tirai di sanubarimu, dan kau akan tahu,
pelabuhan mana yang akan kau singgahi untuk selamanya
hingga pelabuhan itu menjadi rumahmu
rumah dan pelabuhan hatimu.

Monday, August 23, 2004

Buruan Cium Gue!!!

Buletin Studia
Edisi 209/Tahun ke-5 (23 Agustus 2004)

"Buruan Cium Gue"

Kamu pasti udah tahu film layar lebar keluaran terbaru Multivison Plus ini. Bahkan sangat boleh jadi kamu merasa terlibat dan melibatkan diri dalam kontroversi film ini. Kalo saya sendiri rada males ikutan menuliskan di buletin ini. Kenapa? Karena bisa jadi hal ini kian melariskan film tersebut. Kritikan justru bisa berubah jadi iklan gratis. Tapi, alasan saya menuliskan kembali obrolan tentang kontroversi film yang dibintangi Masayu Anastasya dan Hengky Kurniawan ini tiada lain karena merasa tertantang dan sebagai salah satu bentuk tanggung jawab untuk meluruskan pemahaman kamu semua. Semoga saja kamu semua juga setuju.
Oya, jangan dianggap ngeguruin ye. Itu sebabnya, kita ngobrol aja. Ya, anggap saja tulisan kali ini semacam curhat aja. Karena saya yakin, kamu udah pada tahu kontroversi yang berkembang saat ini tentang film remaja yang emang judulnya provokatif itu.
Sobat muda muslim, rasanya sudah sering banget kita disuguhi film-film remaja model begini. Dari yang pesannya ‘halus' sampe yang provokatif seperti film ini. Kita juga sudah kenyang melahap beragam informasi yang sayangnya banyak banget yang error . Kalo nggak kuat-kuat iman mah , bisa bablas deh. Maklum, siapa sih yang nggak tergoda ketika disuguhi adegan syur. Apalagi itu cuma pantas dinikmati oleh mereka yang udah sah jadi suami-istri. Buat para lajang bisa gaswat tuh!
“Buruan Cium Gue”, yang ide cerita dan skenarionya ditulis oleh penulis pendatang baru, Ve Handojo ini mencoba memotret kehidupan remaja Jakarta dengan segala ulah dan permasalahannya. Berangkat dari pemikiran ini, Ve melihat bahwa ciuman di kalangan remaja masih dilihat sebagai sesuatu yang luar biasa. Banyak remaja yang penasaran bagaimana rasanya ciuman. Padahal, di balik satu ciuman sejuta resenya, seperti yang ditulis dalam slogan film ini.
Dari segi penggarapan cerita emang unik, meski hal itu udah biasa. Maklum, orang akan mudah terpikat dengan sesuatu yang umum tapi dengan kemasan yang lain daripada yang lain. Bisa jadi inilah yang diinginkan si penulis cerita dan juga produser film remaja ini.
Seperti yang udah kita ketahui bersama dalam cerita film ini (ciee bahasanya kok resmi amat. Kayak pak lurah aja!), karakter remaja yang penasaran ini tergambar lewat tokoh Desi (Masayu Anastasya), seorang murid kelas 3 SMU yang juga bekerja sebagai pembawa acara remaja di radio. Dia sudah menjalin hubungan asmara dengan Ardi (Hengky Kurniawan) yang sudah kuliah selama dua tahun. Selama berpacaran, Ardi ingin menerapkan gaya pacaran sehat dengan menjauhi segala bentuk kontak fisik, termasuk ciuman. (ada juga toh pacaran sehat? Jangan-jangan cuma sehat doang dalam pandangan hawa nafsu, tapi sejatinya melanggar syariat tuh!)
Oya, hubungan dua remaja ini mulus-mulus saja sampai suatu hari, di sela-sela siaran langsung di radio, Desi ditanya oleh seorang pendengar tentang pengalaman ciuman pertamanya. Karena terdesak, Desi berbohong dengan mengaku sudah pernah ciuman dengan Ardi. Pengakuan Desi membuat Ardi marah. Apalagi Desi diminta tampil di sebuah acara tv menceritakan pengalamannya itu bersama Ardi.
Masalah ini kontan membuat hubungan mereka terganggu. Ardi masih bersikeras tak mau mencium Desi, sementara Desi balik menganggap sikap Ardi terlalu kolot. Dari situ, Desi justru semakin penasaran untuk mendapatkan ciuman dari Ardi. Apalagi, teman-temannya selalu memanas-manasi untuk melakukannya. Desi pun mengerahkan segala cara demi merasakan ciuman pertamanya. Waduh!
Satu film berjuta dampaknya
Disinggung bahwa film ini terlalu agresif memperlihatkan adegan ciuman seperti yang terlihat dalam trailer -nya, dan justru akan mendorong remaja melakukan hal yang sama, terlebih dengan judulnya yang amat provokatif, produser Raam Punjabi hanya menjawab silakan menonton filmnya dulu sebelum memberikan penilaian. Walah!
Ketika ditanya lebih lanjut, Raam menambahkan, “Kita jangan cepat-cepat memberikan penilaian buruk mengenai masalah ciuman ini. Ciuman tidak dilarang dalam budaya kita, tergantung tempatnya di mana. Padahal, satu ciuman sejuta resenya. Kita ingin menunjukkan banyak pengalaman dan banyak pula akibatnya,” tandas Raam yang dijuluki sebagai rajanya sinetron remaja. (sinarharapan.co.id, 26/7/04)
Sobat muda muslim, film termasuk media komunikasi massa. Dari segi dampak atau pengaruhnya kepada khalayak jelas menjangkau lebih banyak massa. Beda banget kalo media kita cuma dinikmati teman satu kos atau keluarga di rumah aja. Tentunya, media itu cuma berdampak kepada sejumlah orang yang bisa diitung lewat jari. Tul nggak? Tapi satu film yang mengumbar maksiat, dan itu ditonton jutaan orang, wah, bisa dibayangkan dampaknya. Syerem abiz!
Ngomong-ngomong soal dampak sebuah film, kita bisa memelototi daftarnya yang emang cukup banyak. Kamu pernah nonton film Alladin versi Walt Disney? Dalam sebuah film animasinya yang berjudul Aladdin (1992), salah satu tema lagunya dengan nada cukup mengejek Islam dengan sebutan Arab adalah bangsa bar-bar, “It's barbaric, but hey, it's home” . Penonton terpengaruh? Tentu saja ada. Itu sebabnya sampai sekarang Amrik selalu curigesen sama etnis ini, yang menurut mereka mewakili Islam.
Saya pernah tanpa sengaja nonton film yang diputar lewat video dalam perjalanan ke luar kota menggunakan bis. Waktu itu film yang sedang diputar adalah Eraser . Film ini dibintangi oleh binaragawan asal Austria, Arnold Schwarzenegger. Dalam sebuah dialognya menyudutkan Hamas, kelompok pejuang Palestina, sebagai teroris. Ketika ditanya temannya, “Dari mana kamu dapatkan senjata ini?”. Jawaban Arnold, “Dari gerakan Hamas, teroris Palestina.”
Penodaan terhadap perjuangan Hamas dan rakyat Palestina melawan penjajah Israel sangat boleh jadi dipersepsi salah oleh ribuan, atau mungkin jutaan pemirsa yang menonton film tersebut. Diharapkan sikap pembelaan kepada Amrik dan Israel akan lebih besar setelah pemirsa nonton film ini.
Itu sebabnya, sangat boleh jadi jika banyak teman remaja yang takut dengan Islam dan merasa harus menolak ikut pengajian karena khawatir dianggap teroris, bukan saja karena seringnya membaca dan mendengar berita yang menyudutkan Islam, tapi bisa jadi karena kebanyakan nonton film laga Amrik macam Death Before Dishonor (1987), True Lies (1994), Executive Decision (1996), Delta Force yang dibintangi Chuck Norris , dan juga Top Gun yang pernah melambungkan nama Tom Cruise.
Jangan anggap enteng
Jangan anggap enteng soal dampak yang dihasilkan media massa. Isi film “Buruan Cium Gue” sangat mungkin untuk ditiru para remaja yang menjadi penontonnya. Sebab, gimana pun juga, film seringkali menginspirasi pemirsanya. Malah sangat boleh jadi akan diikuti rumah produksi lainnya jika ternyata film itu banyak ditonton orang (dasar otak kapitalis! Mikirnya duit mulu , soal moral mah ditaro di jempol kaki kali ye).
Sobat muda muslim, dalam kondisi seperti ini, alhamdulillah ternyata masih ada yang peduli untuk meluruskan keganjilan dari film ini (moga saja tulisan di buletin ini juga termasuk upaya amar ma'ruf wa nahyi munkar ).
“Bagi pria dan wanita yang bukan mahram, bersentuhan apalagi berciuman adalah perbuatan zinah. Dan film yang kira-kira judulnya Buruan Berzinah itu sama saja mengajak generasi muda kita untuk berzinah. Oleh karena itu saya mengimbau para sutradara dan pemain yang beragama Islam agar merenungi hal ini,” tutur Aa Gym saat menyampaikan ceramah di Masjid Itiqlal yang disiarkan langsung oleh SCTV 8 Agustus 2004.
Sebenarnya, sebelum Aa Gym mengeluarkan komentarnya di hadapan jutaan pemirsa televisi tersebut, berbagai mailing list (milis) perfilman dan pertelevisian juga sudah ramai membicarakan film yang digarap Sindo HW itu. Beragam tanggapan pro dan kontra pun keluar dari beberapa anggota milis. (suaramerdeka.com, 13/8/04)
Meski ini terjadi pro-kontra, tapi jangan anggap enteng bahwa kita boleh berbeda pendapat dalam masalah ini. Apalagi kemudian membiarkan masyarakat yang akan memilih. Wah, itu keliru. Kenapa? Karena, selain kebenaran bagi seorang muslim harus didasarkan pada ajaran Islam, juga untuk sesuatu yang jelas kerusakannya tidak perlu ada perbedaan pendapat atau perdebatan. Tapi harus segera diselesaikan lewat jalur hukum. Ditentukan kejelasannya. Nah, negara dong yang berperan besar dalam masalah ini. Tul nggak?
Film bernuansa pornografi ini sebetulnya bisa saja dengan mudah diberantas, asal penguasa di negeri ini mampu dan mau melakukannya dengan sepenuh hati. Cuma masalahnya, selama masih bermesraan dengan sistem kapitalisme yang emang rusak ini, maka nggak akan bisa selesai sampe tuntas. Selalu aja ada bara tersisa, dan itu bisa dikipasin lagi untuk kembali menyala. Maklumlah, penyelesaian setengah hati. Jangan kaget pula kalo kini permisivisme udah jadi ‘Tuhan'.
Itu sebabnya, tampak jelas kalo saat ini para pejabat negara nggak begitu selera untuk membenahi persoalan ini. Apalagi sekarang lagi mikirin hari bersejarah 20 September 2004. Pasti mikirnya kursi kepemimpinan melulu. Kalo pun peduli sama rakyat, ya, sebatas nyari simpati aja untuk milih dirinya nanti. Celakanya, kepedulian itu pun cuma diwujudkan dengan mengadakan lomba balap karung dan panjat pinang dalam rangka memperingati kemerdekaan. Tulalit banget kan? (masih mending kata Si Oneng di Bajaj Bajuri , “Emang tahun '45 ada balap karung Mak?” ketika Si Emak mau ikutan lomba balap karung memeriahkan 17-an).
Ini kapitalisme, Bung!
Emang sih, kalo kita mau ngelihat secara jernih dan dengan akal yang waras, sinema lokal maupun yang impor tidak menawarkan solusi yang jelas. Oke deh, kalo ngomongin muatan Islam, kayaknya nggak ada tuh yang bener. Kalo kita bicara soal moral saja, mana ada sinema kita yang mendidik ke arah sana. Tul nggak? Kalo ngajak kepada yang nggak bener emang banyak.
Selain itu, kayaknya bisa bikin otak kamu turun ke dengkul deh. Hampir semua sinetron dan juga film remaja menjual mimpi. Semua bercerita tentang cinta, selingkuh, dan pernak-perniknya. Cerita kayak gitu menjual mimpi banget! Bikin kita males mikir. Akhirnya, ya jadi generasi pemimpi. Bukan generasi impian. Astaghfirullah…
Ya, maklumlah sobat, hidup di jaman yang serba bebas nilai begini, kita bakalan dihadapkan terus pada persoalan kehidupan yang njlimet. Dalam sistem kehidupan kapitalisme, manusia diajarkan dan dilatih untuk hidup semaunya, alias bebas nilai. Karena, yang terpenting adalah menguntungkan secara materi. Perkara apakah akan membawa kerusakan moral apa kagak, baik buat dirinya maupun orang lain, bukan urusan penting. Nggak peduli lagi soal halal dan haram. Sebab, urusan duit adalah di atas segalanya. Ini kapitalisme Bung! Mafih fulus mampus!
Bagi kita saat ini, paling banter adalah pandai memilih dan memilah. Emang sih, seharusnya negara yang bertanggung jawab. Sebab, merekalah yang punya kekuatan untuk mengubah. Sayangnya, selama masih betah dengan sistem kapitalisme, harapan untuk lebih baik nyaris tak mungkin terealisasi. Intinya, kita pahami Islam, dan buanglah jauh-jauh ajaran kapitalisme-sekularisme dari kehidupan kita. Jadi, mari kita kampanyekan untuk tegaknya kembali syariat Islam, di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Islam, wajib diterapkan sebagai ideologi negara.
Sebab dalam Islam, negara akan memberikan program untuk menanamkan pemahaman secara rutin kepada warga negaranya. Kalo masih ada yang bandel, maka aturan dan sanksi yang diterapkan akan menjerat mereka. Beres. Setuju kan? Harus! Hidup Islam! [solihin]

Monday, August 16, 2004

Kemerdekaan, Disyukuri atau Dirayakan?

Edisi 208/Tahun ke-5 (16 Agustus 2004)
Buletin Remaja Islam Studia
Edisi 208/Tahun ke-5 (16 Agustus 2004)

Memasuki bulan Agustus, semua lapisan masyarakat ikut ngeramein perayaan HUT kemerdekaan RI. Siswa-siswi ‘playboy' alias anak-anak TK sibuk berkarnaval dengan baju adat yang berbeda-beda. Remajanya kudu rela ditodong jadi panitia tujuh belasan. Pak RT aja sampe mondar-mandir kayak setrikaan nagih iuran agustusan. Bener-bener nggak boleh ada yang cuek. Huhuy!

Bagi para penjual bendera dan umbul-umbul, bulan ke delapan ini ibarat bulan berkah. Pernak-pernik kemerdekaan mereka tawarkan di pinggiran jalan raya. Ada juga yang keliling kampung bertemankan gerobak usangnya. Satu per satu bendera dengan berbagai ukuran, tongkat, atau kain umbul-umbul yang mereka pajang berpindah ke tangan pembeli. Pokoknya laris manis tanjung kimpul! Padahal di bulan-bulan laen, barang dagangan mereka jarang dilirik lho (karena memang nggak jualan hihihi)

Di ganggang rumah kita, aksesoris perayaan kemerdekaan yang penuh kreasi dan inovasi kian semarak. Tiap rumah kudu masang bendera. Jalanan dibersihkan dan dicat. Gapura yang awalnya kusam, lecek, bin dekil kini tampil lebih menarik setelah dicat. Pinggirannya dihiasi umbul-umbul dan pita dengan paduan warna mencolok. Nggak ketinggalan lukisan yang bernuansa patriotisme juga adakalanya numpang beken melatarbelakangi gapura.

Saking kreatifnya, gelas bekas minuman mineral pun diberdayakan. Mereka digantung terbalik melintangi jalan masuk gang setelah dicat merah-putih. Nasib yang sama juga dialami es mambo yang berwarna-warni kayak pelangi yang biasanya nongkrong dalam kulkas.

Belon lengkap rasanya kalo nuansa ‘independence day' ini lolos dari otak fulus pengelola pusat perbelanjaan. Yup, jauh-jauh hari mereka udah bikin agenda khusus buat nyambut ajang ini. Setiap sisi mal bertaburan balon, pita, bendera plastik, dan segala aksesoris kemerdekaan. Potongan harga, door prize, hingga pagelaran musik mereka gelar dengan label “Dalam rangka peringatan HUT kemerdekaan” demi mendongkrak penjualan.

Phew! Melototin bentuk partisipasi penduduk negeri ini untuk memeriahkan kemerdekaannya emang capek. Selalu aja ada yang baru, aneh, dan spektakuler. Yang pasti, satu hal yang udah jadi ‘rukun' dalam setiap bentuk partisipasi itu: kudu meriah euy…!

Satu hari di tanggal keramat

Pagi itu waktu menunjukkan pukul setengah tujuh. Tapi tumben siswa-siswi dari SD, SMP, sampe SMU udah pada baris rapi di lapangan sepakbola di tengah kota. Padahal jam segitu biasanya mereka masih asyik bermesraan dengan bantal guling atau ngecengin serial kartun Goro-Goro . Anehnya lagi, Bapak-Ibu Guru, dan para karyawan instansi pemerintah juga ngikut baris. Coba tebak, mereka lagi ngapain hayo?

Yang pasti mereka bukan lagi pada antri sembako dong. Seratus! Mereka lagi ikut upacara perayaan HUT Kemerdekaan RI setiap tanggal 17 Agustus. Lihat saja, pasukan pengibar bendera, baik yang Pusaka maupun yang Ichtra Jaya (eh, sori ini mah nama bis Bogor-Lebak Bulus ya? Hihihi) maksudnya yang biasa, udah siap dari ba'da shubuh tadi. Soalnya mereka yang jadi bintang. Iya dong. Bayangin aja, kalo mereka kebalik masang bendera, bisa jadi perayaan kemerdekaan negara Polandia. Berabe kan?

Selesai upacara, semua peserta yang kepanasan pada bubar tak tentu arah. Para pelajar langsung cabut menuju rumahnya. Biar nggak ketinggalan daftar perlombaan tujuh belasan. Maklum, antusias generasi muda untuk acara tahunan ini ngalahin audisi AFI , Indonesian Idol , KDI , atau Cantik Indonesia . Asli. Mereka bela-belain desak-desakan deh di pintu masuk biar dapet tiket. Sampe rela adu jotos segala. Ih, asal deh. Emangnya mo nonton konser apa? Hehehe…

Tibalah saat yang dinantikan. Dikelompok balita, para peserta lagi sibuk lomba nangkep ikan pake tangan (masa' iya pake kail?). Yang belasan tahun lagi pada pemanasan sebelum balap karung, balap kelereng, balap makan kerupuk, lomba masukkin jarum ke benang (eh, kebalik ya?), atau ngambil uang pake gigi yang ditempelin di jeruk bali yang berlumuran darah, eh oli. Sementara orang dewasa sebangsa bapak dan ibu juga nggak kalah sibuknya nyusun strategi. Biar menang dalam lomba tarik tambang, bakiak racing , sepakbola pake rok, atau joged dangdut berpasangan sambil menghimpit bola (coba bolanya diganti granat. Seru kali yee…? Hihihi)

Puncak acara siang itu diakhiri lomba panjat pinang yang diikuti cowok-cowok topless alias telanjang dada. Mereka kudu bisa manjat pohon pinang yang penuh dengan lumuran oli biar bisa dapetin hadiah menarik yang digantung di puncak pohon. Ada kaos, payung, buku, minuman, bola, sepeda, sampe duit kontan. Tapi kayaknya, monyet aja ogah kali kalo disuruh ikut. Udah mah licin banget, doi juga bisa minder. Sebab wajah para pesertanya yang dilulur oli nggak kalah cakepnya ama doi. Gubraks!

Lapangan yang tadi pagi dipake upacara, siangnya buat perlombaan, malamnya kudu rela dihiasi panggung pagelaran musik. Buat acara malam kesenian agustusan yang nggak kalah menariknya. Di sini, ada acara pembagian hadiah, live show , dangdutan, sampe tari kreasi. Parahnya, banyak tari kreasi yang ditampilkan grup cewek yang menggoda. Baik dari pakaiannya yang minim, ketat, bin seksi, juga gerakannya yang erotis. Nggak jauh beda ama perilaku bidadut. Udah gitu, para penontonnya juga campur baur laki-perempuan. Malah ada yang mojok juga. Parah pisan euy. Walhasil, ajang independence day ini ditutup dengan acara malam penuh maksiat. Ciloko tenan Rek!

Benarkah kita sudah merdeka?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata merdeka berkaitan dengan penjajahan, berarti lepas dari berbagai bentuk penjajahan dan penghambaan manusia terhadap manusia lainnya, baik penjajahan secara fisik maupun penjajahan dalam bentuk ekonomi, sosial, politik, dan budaya.

Kalo baca definisi di atas, kita tentu yakin sejak dibacakannya teks proklamasi 59 tahun yang lalu, negeri ini udah terbebas dari penjajahan secara fisik. Nggak ada lagi perang, kerja paksa, kerja rodi, romusha, atau meneer Belanda yang sok kuasa. Para penjajah udah tereliminasi dari bumi pertiwi. Sehingga Kikan, vokalis Cokelat dengan lantang bisa menyuarakan “ ..merah putih teruslah kau berkibar/di ujung tiang tertinggi/di Indonesiaku ini… ” Taaarik Maaang!

Cuma yang bikin kita ragu, apa benar negeri ini udah merdeka dalam bentuk ekonomi, sosial, politik, dan budaya?

Soalnya, pemerintahan kita masih betah pake sistem demokrasi sekuler buatan orang kafir Barat yang bertentangan dengan Islam. Padahal mayoritas penduduk negeri ini muslim. Kebijakan ekonomi kita pun kudu tunduk di bawah tekanan lembaga keuangan dunia seperti IMF. Akibatnya sumber daya alam yang melimpah dikeruk seenaknya oleh para investor asing. Seperti yang terjadi pada sumur-sumur minyak negeri kita yang dikuasai perusahaan raksasa minyak asing berjaket Exxon/Caltex, Atlantic Richtfield/Arco, Mobil Oil. ConocoPhilips, British Petroleum dll. Pengusaha asing dapet minyak mentah, kita cuma kebagian minyak jelantah. Walah!

Kondisi ini diperparah dengan mewabahnya sikap individualis di masyarakat kita. Sedikit sekali yang peduli dengan penjajahan budaya Barat yang masuk via media massa. Sampe-sampe multivision plus berani ngajak remaja ‘berzina' lewat film terbarunya bertajuk ‘Buruan Cium Gue!'. Masyarakat seolah menutup mata dan telinga dengan ancaman seks bebas, budaya permisif, atau gaya hidup hedonis yang tengah membidik remaja. Alamat hancur generasi muda Islam. Betul? Betuuul!

Di tingkat individu muslim, gencarnya opini sekuler via media massa lambat laun mengikis pertahanan akidah mereka. Standar perbuatan halal-haram tergeser oleh asas manfaat. Kebahagiaan hidup diorientasikan hanya kepada perolehan materi sebanyak mungkin dengan gampang. Harga diri dan kemuliaan sebagai seorang muslimah pun rela digadaikan di ajang pencarian bakat yang mengekspos aurat. Gaswat!

Sobat muda muslim, udah deh. Kita jujur aja. Kalo kita memang belon merdeka alias masih dijajah secara pemikiran dan budaya. Demokrasi, privatisasi, sikap individualis, asas manfaat, seks bebas, permisifisme, gaya hidup hedonis, atau budaya populer adalah raport merah peradaban Barat yang sekuler. Sialnya, di negeri kita justru raport merah itu dianggap nilai istimewa. Akhirnya, perlahan-lahan dengan penuh kebanggaan, nilai-nilai itu diperjuangkan, dipertahankan, malah diupayakan agar mampu mewarnai negara, masyarakat, dan teman-teman di sekeliling kita. Hiks…hiks…hiks… Beginilah nasib negara kalah yang terjajah. Dijajah kok bangga?

Mensyukuri kemerdekaan

Sobat muda muslim, nikmat kemerdekaan yang telah diberikan Allah ini udah sepatutnya kita syukuri. Bukan dirayakan. Karena mensyukuri berarti mengharapkan ridho ilahi. Sementara merayakan bisa melenakan dan diridhoi setan alias kufur nikmat. Apalagi dilengkali dengan maksiat. FirmanNya: “Sesungguhnya jika kalian bersyukur pasti kami akan menambahkan nikmat kepada kalian. Jika kalian mengingkari nikmat-Ku sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim [14]: 7)

Sebagai wujud rasa syukur kita kudu kembali kepada Islam dengan segala aturan hidupnya yang mulia. Sebagaimana yang diperintahkan Allah swt.:

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara total. Janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian.” ( QS al-Baqarah [2]: 208 )

Eh, boro-boro bersyukur, malah kejebak dalam kondisi eforia alias hiburan yang kebablasan. Dengan menggelar ajang pesta-pora, hura-hura dan suka-suka yang nggak jelas juntrungannya, tapi jelas asalnya dari budaya Barat. Selain termasuk kufur nikmat, di mana penghargaan kita terhadap perlawanan para pahlawan Islam yang dilakukan Tjut Nyak Dien di Aceh; Sisingamaraja XII di Tapanuli; Patimura di Maluku; Imam Bonjol di Padang; Pangeran Diponegoro di Jateng; atau Panglima Besar Sudirman?

Para pendahulu kita itu tentu menginginkan kemerdekaan yang mereka perjuangkan diisi dengan aktivitas mulia. Melahirkan generasi muda muslim yang berprestasi. Menciptakan karakter remaja yang tangguh dan istiqomah. Sehingga mampu menghadapi penjajahan modern melalui serangan pemikiran dan budaya sekuler Barat. Jangan sampai rantai perjuangan itu terputus. Karena permusuhan orang kafir terhadap Islam, nggak ada matinya. Bahkan mereka “OL” terus! Catet itu.

Itu sebabnya, mari kita perdalam Islam di forum-forum pengajian. Agar tidak terjebak budaya sekuler Barat (termasuk budaya Sosialisme-Komunisme). Kita amalkan syariat Islam dalam setiap aktivitas kita. Biar pola hidup kita nggak ketuker ama pola hidup Barat yang menuhankan hawa nafsu. Kita dakwahkan Islam sebagai ideologi. Supaya kaum muslimin memahami dan meyakini bahwa cuma Islam yang mampu melawan penjajahan fisik, pemikiran, dan budaya orang-orang kafir. Dengan begitu, kita semua bisa bersama-sama berjuang demi kemuliaan Islam melalui tegaknya Khilafah Islamiyah yang bakal ngasih garansi kemerdekaan hakiki negeri ini dan juga negeri muslim lainnya. Khilafah akan membebaskan penjajahan, baik yang bersifat fisik (militer), juga penjajahan dalam bentuk ekonomi, politik, budaya, juga sosial. Mau kan? Kamu harus bin kudu jawab: “Ya…ya…ya…” [hafidz]

Thursday, July 29, 2004

Eugenics Ala Hitler

Adolf Hitler, sang pembantai dari Jerman, termasuk orang yang gembira menyambut teori Darwin, karena ia juga mendapatkan justifikasi terhadap pandangan rasialismenya. Hitler dengan partai Nazi-nya meyakini bahwa ras Arya, komponen utama bangsa Jerman, lebih tinggi dari ras-ras lainnya, bahkan lebih tinggi daripada sesama bangsa Eropa lainnya. Karena itu Hitler mengimpikan ras Arya akan membangun imperium yang akan bertahan selam seribu tahun.

Setelah mendapat inspirasi dari teori Darwin, khususnya tentang pertarungan untuk mempertahankan kelangsungan hidup, Hitler kemudian berusaha mewujudkan impiannya itu dengan melakukan invasi militer ke berbagai negara tetangganya, seperti Austria, Ceko, Polandia, Perancis dan Rusia. Jika mungkin, ia ingin menguasai seluruh dunia.

Menurut Harun Yahya, pengaruh rasialisme teori Darwin terhadap pemikiran Hitler nampak sekali pada bukunya yang berjudul "Mein Kampf" (Perjuanganku). Sebagaimana Darwin, Hitler juga memberikan status kera kepada ras non-Eropa. "Hapuskan [ras] Jerman Nordik dan jangan ada yang tersisa kecuali tarian para kera," kata Hitler.

Harun Yahya juga menjelaskan, dasar berpijak pandangan evolusionis kaum Nazi ada pada konsep eugenics. Eugenics berarti `perbaikan' ras manusia dengan cara membuang orang-orang berpenyakit dan cacat, serta memperbanyak jumlah individu sehat. Menurut teori tersebut, ras manusia dapat diperbaiki dengan cara yang sama sebagaimana hewan berkualitas baik dapat dihasilkan melalui perkawinan hewan-hewan yang sehat. Sedangkan hewan yang cacat dan berpenyakit dimusnahkan.

Jelas ada kaitan kuat antara teori eugenics dengan teori evolusi, seperti tampak di berbagai publikasi yang menyebarluaskan sains aneh ini. Di antara publikasi tentang eugenics berbunyi, "Eugenics adalah pengaturan mandiri evolusi manusia".

Sebagaimana dapat diduga, pendukung eugenics adalah para Darwinis. Pemimpin gerakan eugenics di Inggris adalah sepupu Charles Darwin, yakni Francis Galton, dan anaknya, Leonard Darwin.

Yang pertama mendukung dan menganjurkan eugenics di Jerman adalah Ernst Haeckel, ilmuwan biologi evolusionis terkenal. Ia menganjurkan agar bayi-bayi cacat yang baru lahir segera dibunuh untuk mempercepat proses evolusi pada masyarakat manusia. Haeckel juga mengusulkan agar orang-orang cacat, lemah mental dan berpenyakit genetis hendaknya dibunuh saja. Jika tidak, kata Haeckel, mereka ini akan membebani masyarakat dan memperlambat evolusi.

Haeckel meninggal dunia pada tahun 1919, namun idenya telah diwariskan kepada kaum Nazi. Sehingga, tak lama setelah Hitler meraih kekuasaan, ia segera menerapkan kebijakan eugenics. Mereka yang lemah mental, cacat, dan berpenyakit keturunan dikumpulkan dalam `pusat-pusat sterilisasi' khusus untuk dilenyapkan, karena orang-orang demikian dianggap parasit yang megancam kemurnian ras Jerman dan menghambat kemajuan evolusi. Sehingga dalam waktu singkat, orang-orang ini kemudian dibunuh atas perintah rahasia Hitler.

Masih dalam semangat evolusi dan eugenics, Nazi telah menganjurkan muda-mudi berambut pirang dan bermata biru yang dianggap mewakili ras murni Jerman untuk saling berhubungan seks tanpa harus menikah. Untuk itu pada tahun 1935 ladang-ladang khusus reproduksi manusia didirikan. Di dalamnya tinggal wanita-wanita muda yang memiliki kriteria ras Arya. Ladang-ladang itu kemudian menjadi tempat singgah para perwira SS Nazi untuk berzina dengan dalih eugenics. Selanjutnya bayi-bayi yang lahir dari perbuatan biadab di ladang-ladang ini akan dipersiapkan untuk menjadi prajurit masa depan `Imperium Jerman'.

Dalam rangka memperbaiki keunggulan ras Arya, kaum Nazi menggunakan konsep Darwin. Darwin menyatakan bahwa ukuran tengkorak manusia membesar tatkala ia menaiki tangga evolusi. Kaum Nazi sangat mempercayai gagasan ini dan mengadakan pengukuran tengkorak untuk menunjukkan bahwa Jerman adalah ras unggul. Di seluruh Jerman Nazi, melakukan pengukuran demi membuktikan bahwa tengkorak bangsa Jerman lebih besar dibandingkan dengan ukuran tengkorak ras-ras lain. Ciri fisik seperti gigi, mata dan rambut diperiksa berdasarkan kriteria evolusionis. Mereka yang kedapatan berukuran di luar kriteria resmi ras Jerman dibinasakan menurut kebijakan eugenics Nazi.

Semua kebijakan aneh ini diterapkan atas nama Darwinisme. Michael Grodin, sejarawan Amerika dan penulis buku, The Nazi Doctors and the Nurenberg Code menyatakan fakta ini, "Saya pikir apa yang telah terjadi adalah adanya kesesuaian sempurna antara ideologi Nazi dan Darwinisme Sosial dan pemurnian ras…" Hal senada juga diungkap Sir Arthur Keith, seorang evolusionis terkenal, "Pemimpin Jerman, Hitler, adalah seorang evolusionis; ia dengan sengaja menjadikan Jerman sejalan dengan teori evolusi."

Benito Mussolini, diktator dan pemimpin Partai Fasis di Italia adalah termasuk sekutu terpenting Hitler dalam Perang Dunia II. Seperti Hitler, Mussolini juga pengagum Darwin. Di masa mudanya, ia pernah menulis artikel yang menyanjung Darwin sebagai ilmuwan terbesar yang pernah ada. Setelah menjadi pemimpin Italia, Mussolini memimpin pendudukan dan penjajahan atas Ethiopia dan Libya berdasarkan pandangan rasialisme Darwin. Menurut Mussolini, Ethiopia adalah bangsa kelas rendah sebab mereka termasuk ras hitam; karenanya diperintah oleh ras unggul seperti Italia justru merupakan sebuah kehormatan bagi bangsa Ethiopia.

Syukur akhirnya Hitler dan Nazi berhasil dikalahkan dalam Perang Dunia II. Hitler mati bunuh diri. Namun sebelum itu Hitler dan pasukannya sudah terlanjur berhasil membunuh jutaan manusia berdasarkan keyakinannya pada paham rasialisme, eugenics, dan Darwinisme.

Mussolini dihukum mati oleh rakyatnya sendiri. Tapi sebelum itu ia juga telah terlanjur memerintahkan pembunuhan 15 ribu penduduk Ethiopia selama pendudukan Italia. Pembantaian kaum Muslimin di Libya lebih dahsyat. Tercatat ada 1,5 juta orang Muslimin mati dibunuh tentara Italia. [Indra]

Monday, July 26, 2004

PENGANTAR PEMAHAMAN MENGENAI IDEOLOGI

Pasti kamu pernah menempelkan tangan dan menelekannya di kepala seperti patung The thinker karya Auguste Rodin yang terkenal. Apa yang ada di serat otakmu saat berpose dengan posisi seperti itu?. Apa di kepala merngerjap-erjap kesan hangat lipgloss yang dikecupkan  girl  friendmu tepat bibir? atau malah kamu sedang berfantasi  sekaligus bermasturbasi setelah membuka situs porno 6 jam lalu?. Atau barangkali kamu sedang merasa hampa, memikirkan muasal manusia?, untuk apa manusia tercipta dan akan kemana setelah mati?.
“Ha..ha…ha rumit sekali kamu berfikir?”, “ha…ha…ho, berfikir tentang kehidupan remaja aja dech, yang membumi misalkan ngobrol tentang kissing, clothing, pokoknya jangan yang melangit!” tertawaan itu terdengar saat kamu setengah sedeng memikirkan pertanyaan tak lazim yang kutanyakan dia akhir paragraf pertama.
“Hei, gak apa-apa kok!”, lanjutkan, jangan bimbang, jangan plin-plan sebab sesungguhnya ketika berfikir seperti itu, kamu sedang mencari kunci sebuah pintu besar alam semesta yang memang harus manusia buka. Dan kamu tahu?, sejak jauh-jauh hari pertanyaan rumit itu sudah dikutak-katik filsuf-filsuf Babylonia. Pertanyaan yang mengkeriet-keriet di pemikiranmu itu sudah di pertanyakan Plato dan Aristoteles, bahkan di bahas dan dibukukan dengan lezat melalui perjalanan fiksi seorang Sophie Admunsen dan anak lelaki bernama Hans Thomas --melalui buku filsafat kontemporernya yang terkenal.
Kamu sampai pada pertanyaan diatas!, artinya kamu beranjak maju satu langkah dari teman-temanmu. Kamu sudah sampai di persimpangan jalan yang akan mengarahkan kamu menuju kebangkitan sebab! jawaban pertanyaan tersebut akan memaksa kamu untuk memilih landasan dasar bagi kehidupanmu (jalan hidup a atau b, atau x, mau stair way to heaven, naik lift to basements!). Radiknya! aku katakan : “Hoi, kamu sedang berfikir megenai landasan ideologi besar yang berganti-ganti memegang tampuk peradaban dunia!!!”.
Taqiyudin Annabhani menyatakan, manusia bangkit karena pemikirannya dan kebangkitan pemikiran pastilah berasal dari pemecahan pertanyaan mendasar yang diungkap oleh beragam ideologi yang ada di dunia. Pertanyaan yang kamu utarakan di paragraph 1, garis ke lima merupakan landasan dasar sebuah ideology. Lantas ideology itu apa?.
Bagi sebagian orang ideologi dianggap sebagai alat untuk membebaskan manusia dari belenggu-belenggu. Sebagian lainnya termasuk Auguste Comte, Francis Bacon1) --serta Marx--, masuk kedalam kubu yang menganggap bahwa : untuk membebaskan manusia dari belenggu maka manusia harus di jauhkan dari ideology karena ideologi merupakan kesadaran palsu yang menjauhkan  manusia dari realita. Sebagian pihak lainnya menganggap  ideology sebagai hal yang mengawang-awang “untuk apa mikirin yang begituan, mendingan mikirin fluktuasi minyak jalantah di pasar Ranca Ekek”. Padahal kalau mau tahu, fluktuasi minyak jalantah di Ranca Ekek merupakan --aturan cabang— dari ideology yang mengatur tentang pengelolaan serta distribusi kekayaan alam.
Dari perbedaan itu (tidak termasuk fluktuasi minyak jalantah), tidak bisa dipungkiri bahwa pemahaman mengenai ideology pasti berbeda di setiap benak kepala --seperti yang pernah diutarakan Eagleton dalam bukunya yang berjudul ideology.
 Dulu, seorang Marxis yang hidup lebih dahulu dari Althuser, bernama George Lucas dan Antonio Gramsci pernah merevisi konsep ideology yang dikatakan Marx : membawa manusia pada kesadaran palsu. Mereka secara tidak langsung menyatakan bahwa ideologi dapat berperan positif tergantung cara orang memandangnya. Tentu karena mereka Marxis maka ideology yang dianggap dapat membebaskan penindasan dan dipakai dalam perjuangan kelas adalah ideology Marxis. Hal ini berarti, bahwa Geprge Lucas dan Antonio Gramsci menganggap bahwa ideologi sebenarnya bebas nilai, tergantung man behind the gun-nya dan sudut pandang ke dua orang itu –sedikitnya-- sejalan dengan pemahaman Destutt de Tracy yang menjelaskan bahwa ideology adalah pengetahuan tentang ide-ide.
 Memang jika saya menjabarkan devinisi ideologi yang diutarkan setiap tokoh maka terlalu banyak yang harus dipilih. Tulisan ini akan mengembang menjadi puluhan lembar dan editor majalah ini pasti mencak-mencak memarahi saya (padahal enggak dibayar!). Sebabnya!, saya hanya mengambil beberapa devinisi dari dua kubu yang memiliki pandangan negatif dan positif terhadap ideologi.
 Disaat kamu kebingungan, untuk memilih devinisi ideologi diatasa, saya mengajukan tawaran pada kalian untuk memilih devinisi ideologi yang saya yakini, yang –devinisinya-- diambil dari pemikiran Taqiyudin Annabhani (pemikir bawah tanah Jordania).
Menggunakan devinisi Annabhani tentang devinisi ideologi! maka saya harus menolak pandangan Destut Tracy dan filsuf lainnya yang menganggap ideology sekedar ide-ide atau pandangan dasar karena seandainya ideology merupakan sekedar pandangan dasar!, yang menjadi pertanyaan adalah “pandangan dasar seperti apa?”.
Apakah ketika seseorang menyatakan bahwa alam semesta merupakan ciptaan Ambu Luhur2) apakah kepercayaan itu disebut ideology?. Apakah kepercayaan terhadap Tuhan, dan materi yang berdialetik dapat disebut sebagai ideology?. Jika demikian sederhana pengertian ideology maka akan terlalu banyak yang harus diakui sebagai ideology termasuk apa yag dilakukan penyembah tahi di situs shit city.com yang pandangan kepuasannya disandarkan pada kepuasan filosofi memakan tahi sehingga mereka dapat disebut kaum ideologis?.Memang benar di dalam ideology terdapat pandangan dasar tetapi apakah setiap pandangan dasar merupakan ideology?.
Bagi saya, ideologi merupakan ide atau pandangan dasar mengenai alam semesta serta kehidupan sebelum manusia ada dan sesudah manusia mati. Tidak sekedar itu, ideology memutlakan “syarat pembangunan” berbagai aturan cabang untuk menguraikan problematika kehidupan manusia --dari pandangan dasarnya3).
Ideologi juga memiliki kekhasan tersendiri yaitu memiliki metode untuk menerapkan dan menjaga pemikiran dasarnya serta tata cara menyebarluaskannya ke seluruh dunia untuk ummat manusia (karena ideology bersifat universal4)). Singkatnya : ideology harus memiliki dua unsur 1) pemikiran mendasar dan 2) metode!.
Itulah devinisi ideologi yang sebenar-benarnya, sesungguh-sungguhnya, semurni-murninya 24 gram bebas karat!. Dan kamu harus menelan-nelan mentah-mentah devinisi ideologi yang saya utarakan. Cuiiih!, bohong!, jangan percaya begitu aja, semua pilihan ada di kamu, terserah mau mengambilnya atau tidak. Saya sudah tak percaya lagi indoktrinasi dan … mengenai bahasan tentang ideologi!!!, tunggu saja perkembangan selanjutnya dibalik halaman ini, ok?. [Divan]

Sunday, July 25, 2004

KEDEWASAAN ORGAN REPRODUKSI BELAKA

Terlalu banyak orang pakai baju hijau, dengan bintang merah tersemat di bahu tapi tidak tahu-menahu figur Rosa Luxemburg atau Trotsky. Kaus Che Guevara berbintang merah kini jadi pasaran. Sekarang orang-orang beratribut Sparta, pake sepatu boots berantai, kuping dan bibirnya di body piercing, hilir mudik gengam topi miring dijalanan Bandung sambil mengejek “Fuck of  Kapitalis” ke orang-orang kaya yang keluar masuk plaza padahal, baca resensi Das Kapital Marx aja belum pernah.
How poor they are!!!. Apa kamu termasuk kriteria posse seperti itur?. Apa kamu termasuk orang yang berbicara api, berintonasi seram alang-kepalang tapi perkataan-nya sekedar kumur-kumur tak memiliki kedalaman?. Kalau begitu, sudah dewasa atau masih seperti anak kecilkah kita?.
Jamal  teman saya yang anti Tuhan (atheis) slalu menyatakan bahwa kedewasaan yang sering dilihatnya adalah “kedewasaan organ reproduksi belaka”. Cara pandang Jamal dalam melihat kedewasaan saya sepakati, karena –seringnya-- kedewasaan diklaim melalui pesta ulang tahun yang gemerlap cahaya, rampak musik house yang menyesaki kuping, dan potong kue tart di sebuah pesta besar sambil berkata  “Saya sudah 17 tahun, sudah dewasa” atau seperti yang si Om teriakan saat menikmati wine bersama rekan bisnisnya “saya sudah matang, umur saya 40 tahun!”. Apakah ini yang disebut dewasa? padahal seseorang yang berjakun, berambut kemaluan, tumbuh bulu di ketiaknya, menstruasi, dan memiliki uang simpanan bermilyar di bank, belum tentu memiliki kedewasaan intelektual.
Di dunia “ke-tiga” yang kehidupan sosial, ekonomi dan politiknya morat-marit --semacam Indonesia--, kedewasaan dalam arti sesungguhnya sulit didapat dan diperlihatkan. Di tempat-tempat umum, ruas-ruas jalan hingga bangku perkuliahan, orang banyak melakukan aktivitas bukan dikarenakan pertimbangan yang didasarkan atas kesadaran “ruh” yang ia ikat dengan fundamen nilai yang di yakini. Bahkan untuk meyakini nilai tertentu, orang-orang tidak memilihnya dengan kesadaran. Keyakinan yang tumbuh lebih condong diakibatkan karena lingkungan dan faktor keturunan yang menuntutnya demikian (dan ini tidak dewasa!!!).
Seorang Jamal yang melakukan proses komparasi atau perbandingan keyakinan untuk mempertimbangkan keyakinan mana yang akan di anutnya, akan serta merta melakukan hubungan seks bebas dengan nyaman. Dia tidak akan dibayang-bayangi dosa seperti pengguna kaus Che Guevara bernama Barli, yang seusai berzinah, meraung-raung, teringat-ingat komik Tatang S. tahun 80-an yang menggambarkan pelaku seks bebas digiles setrika sebesar traktor! (di neraka). 
Mengapa perbuatan yang sifatnya sama memiliki dampak yang berbeda pada diri pelakunya? (dampak yang berbeda terjadi karena cara seseorang dalam memeluk keyakinan). Jamal memeluk keyakinan karena pilihannya, Barli memeluk keyakinan karena faktor keturunan, sehingga ia mengambil aturan main nilai-nilai secara setengah-setengah. Pengambilan aturan main –setengah-setengah-- inilah yang menyebabkan-nya terjebak pertarungan nilai-nilai yang berbeda di dalam isi kepala. Barli menjadi manusia malang, menjadi manusia setengah jadi yang dikatakan oleh ilmu psikologi sebagai penyakit kepribadian yang terpecah split personality.
Dalam kasus diatas, terlihat bagaimana kriteria kedewasaan dan ketidakdewasaan terjabarkan. Kedewasaan merupakan fase metamorfosa, fase ketika manusia mengetahui segala hal yang sedang dan akan dilakukan. Kedewasaan adalah kesadaran sempurna untuk memilih dan mengetahui konsekuensi jalan hidup yang akan diambil. Jika seseorang ingin menjadi individu super, --menjadi superman!--, maka ia harus dewasa, membuka relung fikiran untuk menyingkap tabir keberadaan dirinya ditengah semesta. Dia harus memecahkan teka-teki besar yang akan menyediakan aturan untuk dijalankan dalam kehidupannya. Seandainya aturan itu ditemukan, dan dia akan menggunakan aturan main itu secara sungguh-sungguh (melaksanakan aturan itu) maka ia akan menjadi manusia utuh yang tercerahkan. Keberadaan dirinya setelah pencerahan akan “ruh” kesadaran akan menjadikan kehidupannya di dunia bukan sekedar menjadi gerabah tanah liat yang di-isi oleh manusia lainnya. Sebab dia telah menjadi manusia merdeka yang bukan sekedar menjadi objek melainkan subjek dewasa yang harus memikul kejayaan peradaban dipundaknya!!!. [Bogor]

Setelah Pemilu Berlalu...

(Buletin Remaja Studia Edisi 204/Tahun ke-5 (19 Juli 2004))


Pemilu kali ini beda! Begitulah bunyi iklan yang kagak bosen-bosennya nongol menjelang pesta rakyat berlangsung. Se-telah delapan kali pelaksanaan pemilu (tahun 1955, 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999) . Tahun 2004 ini emang beda. Tahu dong bedanya?

Pertama , kali ini para rakyat bisa milih langsung wakilnya yang duduk di lembaga perwakilan rakyat maupun duet pemimpin negeri ini. Kalo dulu, kita cuma nyoblos tanda gambar parpol. Lalu, parpol yang bakal nentuin siapa wakilnya yang duduk di kursi ‘basah' MPR/DPR. Makanya dalam pemilu kali ini kita banyak nemuin tempelan foto-foto wakil rakyat dan pasangan capres-cawapres nampang di tembok, angkot, sampe telepon umum (untungnya nggak ada yang nempel di sampul buku surat Yaasin. Hehehe…)

Kedua , pemilu kali ini berjalan 3 putaran. Pemilu legislatif (milih wakil rakyat) tanggal 5 April yang diikuti 24 partai. Dan ‘semi final' pemilu eksekutif (milih presiden) tanggal 5 Juli yang diikuti 5 pasang peserta. Kalo di semi final nggak ada pasangan yang memperoleh suara lebih dari 50%, maka berlangsung babak final pada tanggal 5 September yang hanya diikuti dua kandidat. Itu berarti 3 kandidat kudu tereliminasi alias angkat koper dari bursa ca (wa) presiden. Dan perlu dicatat, nggak ada perebutan juara ketiga lho! (emangnya turnamen sepakbola hehehe...).

Hiruk-pikuk kampanye Pemilu

Masa kampanye menjadi saat yang paling dinanti oleh masyarakat. Di sinilah tempatnya untuk ngasih dukungan kepada para kontestan pemilu. Sekaligus ajang yang pas buat nyari kaos atau souvenir gratisan. Asyiknya lagi, banyak calon wakil rakyat yang tiba-tiba jadi dermawan. Mereka rela merogoh kocek buat rehab mushola, bantuan sembako, sampe biaya bangun TPS demi menjaring simpati masya-rakat. Para peserta pemilu juga gencar bikin acara bakti sosial, panggung musik, tempel stiker, pasang spanduk sampe konvoi kenda-raan bermotor. Pokoknya meriah euy!

Biar kampanye sukses, pasti yang satu ini nggak boleh ketinggalan dan kudu ngalir deras. Yup, apa lagi kalo bukan: duit! Benda ini memang ajaib. Bisa masang spanduk, nempelin poster, diriin warung, bikin souvenir sampe pengerahan massa. Makanya nggak heran kalo tim sukses kontestan pilpres getol berekspe-disi mencari penampakkannya. Hasilnya bisa kita lihat. Pasangan Mega-Hasyim Rp 103,096 miliar, Wiranto-Wahid Rp 49,491 miliar, Sby-Kalla Rp 60,385 miliar, Amien-Siswono Rp 22,007 miliar, dan Hamzah-Agum Rp 2,75 miliar ( Kompas , 05/07/04). Semuanya duit lho. Asli tanpa campuran daun. Gile beneer….dari mana ya duit sebuanyak itu?

Kalo menurut UU Pemilihan Presiden No. 23/2003, dana kam-panye Pilpres 2004 berasal dari 3 sumber yaitu dari capres sendiri, dari parpol yang mencalonkan dan dari pihak lain yang tidak mengikat seperti perseorangan dan badan usaha. Dari semua sumber, kayaknya aliran dana dari pihak ketiga yang mendominasi. Malah bisa meli-batkan pihak asing. Nah lho? Nggak bo'ong.

Sekjen Government Watch (GOWA) Andi Syahputera menuturkan, aliran dana asing dalam pemilu sudah menjadi rahasia umum, karena sudah terjadi sejak zaman Soeharto berkuasa. “Cuma permasalahan-nya, untuk membongkar aliran dana asing ini sangat sulit dilakukan dan susah dicari pembuktiannya”. Biasanya aliran dana asing itu berasal dari pengusaha-pengusaha Cina, AS, dan Eropa yang punya kepentingan bisnis di Indonesia. Mereka ini sangat menginginkan pemimpin Indonesia yang bisa menstabilkan kondisi ekonomi dan keamanan di dalam negeri, untuk mengamankan bisnis mereka di Indonesia. ( Eramuslim , 18/06/04).

Masa kampanye pemilu pun nggak luput dari pelanggaran. Ini yang bikin KPU pusing tujuh keliling lapangan senayan. Dalam pemilu legislatif aja, Mabes Polri telah menerima laporan 1.009 kasus pelanggaran selama masa kampanye dan hari H Pemilihan Umum (Pemilu) 5 April di seluruh tanah air. ( Tempo interaktif , 08/05/04). Sementara dalam masa kampanye pemilu eksekutif, panwaslu mencatat 267 pelanggaran administrasi dan 63 pelanggaran pidana. ( Panwaslu , 02/07/04).

Nggak ketinggalan, janji-janji surga dari para kontestan pun mewarnai masa kampanye. Mewujudkan cita-cita reformasi, penyediaan lapangan kerja, meminimalisasi biaya pendi-dikan, pemberantasan KKN, peningkatan taraf ekonomi, sampai upaya pengentasan kemis-kinan begitu laku ‘dijual' oleh para jurkam (juru kampanye lho bukan juragan kambing!). Sayangnya, nggak ada satu pun partai politik Islam atau kontestan pilpres yang terang-terangan berani menyuarakan Islam dan mengkritisi sistem sekular. Gaung penerapan syariat Islam nyaris tak terdengar saat kampanye. Padahal mereka punya kesempatan untuk itu. Apa karena ‘dagangan' syariat Islam nggak laku ‘dijual' di atas panggung kampanye? Hmm…bisa jadi tuh!

Udah gitu, masa kampanye yang idealnya jadi ajang untuk mengenal lebih dekat calon yang akan dipilih, minim dari pemaparan visi, misi, dan program yang akan dijalankan. Malah salah satu peserta pilpres dari moncong putih menuturkan tak perlu menyampaikan visi, misi, serta prog-ram yang akan dilakukan ca (wa) pres jika terpilih mengingat masa kam-panye yang hanya satu bulan. ( Republika , 19/06/04). Lha, piye iki ?

Perbaikan di bawah panji demokrasi?

Sobat muda muslim, pemilu dan perubahan udah dinobatkan jadi dua sejoli dalam pemerintahan demokrasi. Nggak ada perubahan formasi para pejabat pemerintahan tanpa melalui proses pemilihan wakil rakyat ini. Baik anggota dewan, presiden, wakilnya, maupun susunan kabinet. Melalui pemilu, diharapkan para new comer emang orang yang dikehendaki oleh rakyat. Biar mampu menyalurkan aspirasi rakyat dan nggak lupa memperjuangkan hak-hak rakyat yang terkikis oleh para kapitalis. Sesuai mottonya, “dari rakyat-oleh rakyat-dan untuk rakyat.”

Sayangnya, motto pemerintahan rakyat itu sering nggak muncul dalam pemerintahan pascapemilu. Para kapitalis yang ikut ‘patungan' untuk membiayai kampanye bakal minta bagian. Dari jatah jabatan pemerintah yang strategis, kewenangan mengelola sumber daya alam, hingga kekebalan hukum atas bisnis yang mereka jalankan. Para wakil rakyat pun akan mendapat banyak ‘rezeki nomplok' dari para kapitalis itu agar kebijakan pemerintah yang dikeluarkan berpihak padanya. Sementara kewajiban mengurusi rakyat yang ada di pundak anggota dewan cuma masuk daftar tunggu prioritas. Makanya pas banget kalo kita bilang motto itu diubah menjadi “dari rakyat kecil (masyarakat) oleh rakyat menengah (para wakil rakyat) dan untuk rakyat besar (para konglomerat)”. Akur? Kudu!

Sobat muda muslim, pelaksanaan pemilu dalam bingkai demokrasi di setiap negeri Islam khususnya, semata-mata untuk melanggeng-kan sistem sekular itu. Buktinya, parpol pemenang pemilu atau wakil rakyat yang terpilih nggak boleh ngotak-ngatik falsafah negara dan UUD yang menjadi asas negara. Apalagi sampe menggantinya dengan aturan yang nggak sekular. Bisa berabe urusannya. Karena bertentangan dengan UU pemilu dan UU parpol yang udah disahkan. Karena itu, kita nggak akan pernah menjumpai perbaikan kondisi di bawah bendera demokrasi. Percaya deh!

Udah gitu, dosa lagi. Ibnu Taimiyah dalam “Majmu al-Fatawa” mendefinisikan tahkim ( at-Tahaakum ) sebagai sebuah aktivitas ibadah dan berkata, “Jika seseorang memutuskan perkara dengan selain agama Allah Swt. adalah musyrik.” Jadi, jika seseorang berargumen bahwa dia tidak tahu bahwa memilih suatu kekufuran ataupun memilih orang muslim namun berideologi dan bercita-cita tidak ingin menegakan syariat Islam adalah suatu hal yang serius, hendaknya dia mengambil pelajaran dari Abdullah bin Abbas r.a. yang berkata “Dan orang akan men-jadi kafir karena ketidak-tahuannya.” Sehingga hal ini dipandang sebagai syirik akbar yang tidak dapat diampuni. Naudzubilahi min dzalik!

Berjuang tegakkan syariat Islam

Kedigjayaan Islam pada masa lalu terjadi justru karena dijadikannya Islam sebagai ideologi negara. Sementara dalam demokrasi, agama (Islam) wajib dipisahkan dari peme-rintahan. Itu artinya, kalo kita ingin mengubah kondisi negeri ini dan negeri-negeri Islam yang tengah terpuruk kuncinya cuma satu, ya kunci mas eh, tegaknya pemerintahan Islam alias Daulah Khilafah Islamiyah. Pemerintahan yang dikomandani oleh khalifah ini yang akan mengurusi dan mengayomi sepenuh hati rakyatnya dengan aturan Allah. Sehingga kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, keamanan, keluarga dan ibadah kita akan terjaga. Gimana nggak ngangenin coba?

Untuk sampai pada tegaknya kekhilafahan Islam, kita bersama umat kudu menggalang kekuatan. Sebagai pengemban dakwah, kita jelaskan pemahaman keliru tentang Islam yang berkembang di masyarakat. Kita ubah standar perbuatan mereka dari manfaat bin materi menjadi halal dan haram. Nggak lupa juga kita tanamkan keyakinan umat terhadap syariat Islam sebagai satu-satunya solusi dari setiap masalah yang menghampiri kita. Dengan begini, perubahan kondisi yang kita kehendaki nggak cuma janji. Pasti jadi!

Sobat muda muslim, pemilu boleh berlalu, tapi perjuangan kita nggak boleh surut. Kudu tetep berlanjut. Iya dong, selama hayat masih dikandung badan, selama itu pula dakwah Islam kita kobarkan. Sehingga hari-hari kita dipenuhi aktivitas yang mulia dan bertaburan pahala. Makanya rugi banget buat orang yang hidup tanpa aktivitas dakwah. Oke deh. Pokoknya, tiada kemuliaan tanpa Islam, tiada Islam tanpa syariat, dan tiada syariat tanpa tegaknya Khilafah Islamiyah. Yo'i gak Coy? Huhuy!

Tapi inget, kita juga kudu siap ngadepin masalah dalam dakwah. Terutama dengan lingkungan tempat kita berdakwah. Rumah, keluarga, sekolah, kampus, atau tempat kerja. Apalagi saat kita coba istiqomah dengan aturan Islam. Akan selalu ada pihak yang beda pendapat dengan kita. Dari yang biasa sampe yang bikin sewot. Ada yang ngomong kalo saat ini udah waktunya hukum Islam menyesuaikan dengan realitas yang terjadi. Buat apa tereak-tereak mau diriin negara Islam kalo kebanyakan masyarakat lebih akur dengan demokrasi. Ringan sih, tapi dalem kan?

Lebih dalem lagi pas ada yang bilang perjuangan menegakkan khilafah itu utopia alias khayalan belaka. Padahal kalo kita piki-piki , yang berjuang dalam jalan salah, justru itulah yang utopia. Soalnya jalan yang kita pilih udah terbukti berhasil seperti yang dicontohkan Rasulullah saw. hingga tegaknya Daulah Islam di Madinah. Sementara jalan yang lain, cuma trial and error ! Yakin deh.

Yang penting buat kita, adalah berjuang untuk Islam semaksimal mungkin dengan apa yang kita miliki. Perkara hasil dan risiko yang bakal terjadi, serahkan kepada Allah. Yakinlah bahwa Allah akan selalu bersama kita. Jadi nggak usah minder apalagi pusing mikirin suara sumbang dalam aktivitas dakwah. Kita berharap bisa seperti Rasulullah saw. dan para sahabat yang gigih mendakwahkan Islam. Pantang mundur walau selangkah. Meski penganiayaan, boikot, hingga fitnah senantiasa menghujani mereka. Pemilu boleh berlalu, tapi dakwah Islam kudu tetep maju. Di mana kaki berpijak atau oksigen dihirup, di sanalah dakwah Islam kita serukan. Tetep istiqomah! [hafidz]

Logika Agama dan Logika Politik

Orang bilang politik itu kotor dan najis. Dan masalah muncul ketika politik yang kotor ini bertemu dengan agama yang bersih.

Logika politik adalah kompromi. Tanpa kompromi jelas bukan politik namanya. Politik muncul ketika suatu komunitas menjadi tidak homogen; muncul berbagai kepentingan yang harus diatur sehingga tidak bertabrakan satu sama lain. Atas dasar inilah muncul seni berdiplomasi yang melekat erat dengan dunia politik kontemporer. Kepentingan si A dan si B tidak bisa sepenuhnya diakomodasi, tapi harus dicari cara supaya si A dan si B ini sama-sama berpuas hati dengan kesepakatan yang diambil. Jika semua orang puas, niscaya roda pemerintahan bisa menggelinding dengan lancar.

Logika agama jelas bukan logika kompromi. Agama adalah sikap pasrah, ketundukan kepada Dzat Yang Mahatinggi. Karena Dzat tersebut bersifat ghaib, maka ketundukan itu beralih kepada nabi-nabi utusan-Nya yang kasat mata. Sepeninggal nabi-nabi, ketundukan itu jatuh kepada para ulama dan rahib. Kaum ulama adalah pewaris kenabian, demikian Nabi Muhammad bersabda. Kaum ulama memegang otoritas keagamaan dan sekaligus menikmati hak ketundukan dari umat. Kata-katanya adalah penafsiran wahyu Tuhan, sehingga sampai ada yang nekat membuat kaidah: "Setiap hasil pemikiran (ijtihad) kaum ulama adalah hukum Tuhan itu sendiri!"

Jika tingkat ketundukan umat kepada ulama sudah demikian dahsyatnya, maka politik menjadi absurd. Kompromi menjadi mustahil. Yang ada adalah pemaksaan kehendak karena setiap ulama merasa dirinyalah yang berhak menafsirkan firman Tuhan. Klaim atas surga menjadi rebutan. Tuhan memang tak bisa hadir langsung secara kasat mata untuk menengahi konflik, sehingga konflik agama adalah konflik tanpa kata putus. Tidak ada satupun mahkamah yang sanggup menghentikan konflik antar iman dan mazhab, melainkan kedua belah pihak secara sukarela menyarungkan pedang dan anak panahnya.

Mungkin Aristoteles benar ketika ia berkata bahwa agama yang homogen adalah syarat stabilnya suatu negara. Sepertinya hanya ada dua cara untuk menstabilkan negara: pemaksaan agama atau jauhkan agama dari politik. Paksakan satu agama yang sama kepada publik dan kaum ulama merangkap sebagai penguasa, atau buang jauh-jauh agama dari pentas politik sehingga publik bisa bebas berkompromi tanpa kekhawatiran bahwa hasil kompromi tersebut akan menyeretnya ke neraka.

Mana yang Anda pilih? [Bimo Ario Tejo]


TAHI DAN PERUBAHAN SOSIAL

Genjer. Bukan macam mitos nyanyian Gerwani, yang pernah diekspose media massa. Hanya dedaunan hijau yang sering dijadikan pelengkap pecel di daerah Serang Banten. Sekedar
daun kenyal-kenyal kangkung yang oleh orang-orang Bule disebut java salad. Melirik ke folder pikiran ketika seorang teman di masa lalu mengajak main tebak-tebakan.
Siapa yang kembali? senyumnya.
Nyerah! tembak saya malas.
Lalu siapa yang kembalisaya menodongnya.
Genjer,!balas teman yang sedikit sinting.
Ya!, genjer kembali mengingatkan, saat saya berjalan di pelipir selokan dekat rumah singgah. Itu, itu, itu genjer yang tersemat di tahi. Sayuran lusuh yang masih menampakkan
wujud aslinya meski sudah melewati pankreas dan digodok oleh gerakan peristaltik. Siapa yang makan genjer? Pikirku. Lebih lanjut lagi, siapa yang memakan genjer hijau dan me-mix and match-kannya dengan kuning tahi serta setetes darah merah orang sembelit?. Perpaduan warna traffic light yang ditahun 2004 berniat adu fisik --memperebutkan kursi-- kenapa bisa bersatu?. Ah maaf meneer dan noni!. Saya tidak bermaksud membicarakan pemilu sebab untuk apa, karena selaku individu saya berniat untuk golput! (tujuan saya golput tidak sama dengan tujuannya Arief Budiman). Ah sudah, lupakan!.

Saya akan setir kembali busana pemikiran ini menuju topik awal mengenai genjer dan tahi.
Tahi-tahi bergenjer mengapung-apung bersama renik dan tutut sawah. Bongkahan-bongkahannya dapat dihitung dengan jari tapi bercak-bercaknya entahlah. Mungkin ratusan. Disguisting, Geuleuh, Geblegh, Jorok. Mengapa sedemikian banyak tahi yang hilir mudik?. Rumah siapa yang gak pake septic-tank?. Bayangkan bagaimana kalau hujan?. Saya yang wudhu lima kali sehari pasti tak akan lagi merasa suci seandainya air selokan itu meluber. Sedikit saja tumit terkena genangan airnya, saya harus mensucikan diri dengan tanah dan mandi besar --seperti waktu ke Bali, tangan saya dijilati babi--. Esok hari. Saya memang biasa melewati jalan yang disamping kirinya ada selokan. Selajur jalan tembus itu mengarahkan saya menuju warnet yang salah seorang penjaganya tomboy manis bernama Leoni.

Dan masya Allah saya berteriak histeris ketika menapaki jalan yang terbuat dari tembok itu.
Siapa, si Leoni? penasaran-mu keluar.
Bukan!, saya menyanggah, yang masya Allah itu lihat!, dihadapan saya seorang wanita menjumputkan tangan ala balerina sembari melemparkan kantung plastik ke dalam selokan. Gila!. Bandung lagi musim hujan. Kalau hujan datang mampuslah, semua kebanjiran tahi!.

Prediksi berjalan. Mendung bertahan dari pagi hingga sore hari. Dan ketika jam di layar flat computer menunjuk pukul 16.32, terdengar bunyi jelegur!, byur. Hujan yang dikerabati petir datang tiba-tiba. Saya yang masih di warnet si Leoni terpaksa membatalkan kepulangan. Waktu jalan cepat. Tiga puluh menit sudah, hujan yang byur berubah menjadi ces. Time to go now. Disconnect internet. Ambil uang 7000 dari dompet
dan berjalan.

Seratus langkah dari warnet mulut saya monyong. Ingin muntah rasanya.Dikepala saya berputar-putar genjer, pemilu, tahi dan wanita yang melemparkan kantung plastik ke
selokan. Air selokan meluber dan tahi-tahi berceceran di jalan. Saya mengkeriutkan dahi sembari mengumpat dalam hati "Bego apa tolol wanita itu?" sarkasme saya keluar.

Setiap tahun, di bulan yang ujungnya "ber" selokan pasti banjir. Dan wanita itu tak
mungkin tak mengetahui bahwa penyebab luap air yang sehari-hari diendapi tahi, dikarenakan sampah yang sering dilontarkannya ke dalam selokan. Saya kecewa dengan kebodohan itu. Apa yang ada dalam pikiran pembaca ketika saya berpikir tentang kebodohan?.
Ah paling kamu nyalahin sistem pendidikan dan pemerintahan negara ini!,jawab kamu
yang memakai topi pet. Atau Paling kamu naksir sama si Leoni yang suka novel wanita di titik nol itu kan? selidik kamu yang menggaruk ketiak. Ehm, atau!, kamu lagi mikirin bagaimana caranya, tahi manusia dijadikan pupuk urea? sangka kamu selaku mahasiswa pertanian.

SALAH!.

Tarik kembali prasangka kalian. Meski banyak benarnya apa yang kalian pikirkan kecuali si Leoni--. Tapi bukan itu intinya. Ketika endapan tahi meluber ke jalan, terbersit kembali --dalam pikiran-- sebuah pernyataan teman yang jenggotnya selebat jenggot Saddam Husain saat ditangkap American Army.
"Bagaimana mau merancang revolusi kalau lingkungan sekitar masih jorok minta ampun!" serunya.
Adapula anak kedokteran yang bilang, "Jangan bicara tentang perubahan sosial kalau kamu masih buang sampah di jalan. Kerjain yang kecil-kecil dulu deh" ketiknya sewaktu chatting.

Benar!, adalah fakta bahwa banyak-- orang yang bilang revolusi dan reformasi kelakuannya
jorok abis. Kalau mau jujur, --bukan di kalangan aktivis sosialis dan demokrasi saja yang kayak gitu-- di kalangan aktivis Islam ada juga yang begitu. Betul! dan tak bisa dihitung dengan jari harus pake kalkulator orang yang bicara tentang perubahan sosial ternyata buang sampah tidak pada tempatnya.

Saya yang pro internasionalisme Islam dan ikut demo di Jakarta, pernah menyaksikan beberapa teman yang pake slayer lâ ilaha ilallah berteriak Khilafah,dan Destroy Kapitalisme sambil buang botol aqua di pinggir jalan. Sahabat-sahabat saya itu menjentikkan puntung rokok ke taman serta menendang bungkus makanan kecil ke dalam selokan.

Dan saya katakan--supaya teman yang berjanggut dan ananda mahasiswi kedokteran itu tidak
menganggap saya menyepelekan kebersihan "Hei, sang aktivis kalian mikir pake polo ya? Huh, buang sampah sembarangan!, mikir yang panjang dong."

Boleh sombong!. Semasa SMA saya ikut pecinta alam dan selalu membuang sampah pada tempatnya. Sampai saat ini saya senantiasa memarahi teman-teman yang buang puntung rokok
dari dalam mobil pribadi ke jalan, bahkan ketika membaca buku Samson Delilah dan Ideologi Hijau, saya lantas memulai untuk tidak menggunakan plastik dan stereofoam yang susah dicerna bumi. Saya sangat mencintai lingkungan. Tapi!, inti masalahnya tidak terletak disana inti masalahnya yakni-- saya takut, kalau meneer dan noni terkena wabah culdessac intellectual yang menular seperti epidemik Cikumunyang yang menggegerkan itu. Meneer dan Noni harus tahu bahwa antara perubahan sosial (revolusi atau reformasi) tidak terkait dengan buang-membuang sampah tok seperti --yang dikatakan teman saya, kerjain yang kecil-kecil dulu. Lakukan dari yang kecil-kecil?. Akur!, tapi melakukan hal kecil yang nyambung
kan?. Kalau hal-hal kecil seperti buang sampah tok, terlebih berbicara tentang haid dan nifas, tentang cara mencukur kumis, menyabuni kaki yang bau apek, hingga membereskan sendal di masjid!, ya nggak nyambung dengan perubahan sosial atuh!. Dan kapan perubahan sosialnya mau terjadi?. Hal-hal kecil yang nyambung dengan perubahan sosial adalah membicarakan faktor-faktor apa yang menyebabkan orang sampai berani buang sampah. Apakah karena mahalnya biaya pendidikan hingga orang jadi bodoh amat?; apakah karena buruknya strategi pembuatan saluran air atau karena penegakan hukum yang lemah?. Hal-hal yang memiliki korelasi dengan perubahan sosial lainnya adalah bagaimana caranya mendandani
komunikasi politik --yang dimiliki-- supaya akal dan perasaan masyarakat menerima Islam is the only solution!. Hal-hal kecil lainnya ketika ingin melakukan perubahan sosial
ialah, aktif melakukan diskusi dua arah agar pemikiran masyarakat berubah; memberikan
pendidikan politik-ekonomi Islam agar teman, ibu, bapak, pembantu dan pak Lurah tahu, bahwa kebijakan pemerintah tentang peminjaman hutang dari CGI dan privatisasi --merupakan usaha pemerintah untuk lari dari tanggung jawab terhadap rakyatnya adalah salah!; juga bagaimana membeberkan fakta bahwa pemerintah membiarkan koruptor dipenjara beberapa bulan sementara orang yang mencuri beras--untuk makan-- dipukuli dan dibakar beramai-ramai. Yang terakhir !, jangan lupa memberikan motivasi, Ayo bergerak saat ini juga untuk perubahan! sembari mengutip perkataan Emiliano Zapata :

"Lebih baik mati dengan berpijak pada kakimu sendiri daripada hidup dengan bertumpu pada lututmu!"

Kalau meneer dan noni masih tetap memegang cara yang tidak nyambung dengan perubahan sosial maka ada baiknya saya beritahu bahwa orang-orang yang merancang Revolusi Bolsyevijk
itu, celana dan bajunya kumel bin dekil; mereka bebas berhubungan seks; dan tukang mabok; tapi merekalah yang meruntuhkan kekuasaan Tsar Rusia pada tahun 1917. Lha kok bisa ya?.

(NC Zine#4)

Manifesto Partai Komunis

Ada hantu berkeliaran di Eropa—hantu Komunisme. Semua kekuasaan di Eropa lama telah menyatukan diri dalam suatu persekutuan keramat untuk mengusir hantu ini: Paus dan Tsar, Metternich [12] & Guizot [13], kaum Radikal Perancis [14] dan mata-mata polisi Jerman.
Di manakah ada partai oposisi yang tidak dicaci sebagai Komunis oleh lawan-lawannya yang sedang berkuasa? Di manakah ada partai oposisi yang tidak melontarkan kembali cap tuduhan Komunisme, baik kepada partai-partai oposisi yang lebih maju maupun kepada lawan-lawannya yang reaksioner?
Dua hal timbul dari kenyataan ini.
I. Komunisme telah diakui oleh semua kekuasaan di Eropa sebagai suatu kekuasaan pula.
II. Telah tiba waktunya bahwa kaum Komunis harus dengan terang-terangan terhadap seluruh dunia menyiarkan pandangan mereka, cita-cita mereka, tujuan mereka, aliran mereka,dan melawan dongengan kanak-kanak tentang Hantu Komunisme ini dengan sebuah manifesto dari partai sendiri.
Untuk maksud ini, kaum Komunis dari berbagai nasionalitet telah berkumpul di London, dan merencanakan manifesto berikut ini untuk diterbitkan dalam bahasa Inggeris, Perancis, Jerman, Italia, Vlam dan Denmark.
I. Kaum Borjuis dan kaum proletar [a]
Sejarah dari semua masyarakat:[b] yang ada hingga sekarang ini adalah sejarah perjuangan kelas.
Orang-merdeka dan budak, patrisir dan plebejer [16], tuan bangsawan dan hamba, tukang-ahli [c] dan tukang pembantu, pendeknya: penindas dan yang tertindas, senantiasa ada dalam pertentangan satu dengan yang lain, melakukan perjuangan yang tiada putus-putusnya, kadang-kadang dengan tersembunyi, kadang-kadang dengan terang-terangan, suatu perjuangan yang setiap kali berakhir dengan penyusunan-kembali masyarakat umumnya atau dengan sama-sama binasanya kelas-kelas yang bermusuhan.
Dalam zaman permulaan sejarah, hampir di mana saja kita dapati suatu susunan rumit dari masyarakat yang terbagi menjadi berbagai golongan, menjadi banyak tingkatan kedudukan sosial. Di Roma purbakala terdapat kaum patrisir, kaum ksatria, kaum plebejer, kaum budak, dalam Zaman Tengah kaum tuan feodal, kaum vasal, kaum tukang-ahli, kaum tukang-pembantu, kaum malang, kaum hamba; di dalam hampir semua kelas ini terdapat lagi tingkatan-tingkatan bawahan.
Masyarakat borjuis modern yang timbul dari runtuhan masyarakat feodal tidak menghilangkan pertentangan-pertentangan kelas. Ia hanya menciptakan kelas-kelas baru, syarat-syarat penindasan baru, bentuk-bentuk perjuangan baru sebagai ganti yang lampau.
Tetapi zaman kita, zaman borjuasi, mempunyai sifat yang istimewa ini: ia telah menyederhanakan pertentangan-pertentangan kelas. Masyarakat seluruhnya semakin lama semakin terpecah menjadi dua golongan besar yang langsung berhadapan satu dengan yang lain - borjuasi dan proletariat.
Dari kaum hamba pada Zaman Tengah timbullah wargakota berhak-penuh dari kota-kota yang paling permulaan. Dari wargakota-wargakota ini berkembanglah anasir-anasir pertama dari borjuasi.
Ditemukannya benua Amerika, dikelilinginya Tanjung Harapan di Afrika Selatan, memberikan lapangan baru bagi borjuasi yang sedang tumbuh, pasar-pasar di Hindia Timur dan Tiongkok, kolonisasi atas Amerika, perdagangan dengan tanah-tanah jajahan, bertambah banyaknya alat penukaran dan barang dagangan pada umumnya, memberikan kepada perdagangan, kepada pelajaran, kepada industri, suatu dorongan yang tak pernah dikenal sebelum itu dan bersamaan dengan itu memberikan kepada anasir-anasir revolusioner dalam masyarakat feodal yang. sedang runtuh itu suatu kemajuan yang cepat.
Sistim industri yang feodal, di mana produksi industri dimonopoli oleh gilda-gilda semata-mata, sekarang tidak lagi mencukupi kebutuhan-kebutuhan yang makin bertambah dari pasar-pasar baru. Sistim manufaktur [17] menggantikannya. Tukang-tukang-ahli didesak keluar oleh kelas tengah manufaktur; pembagian kerja di antara berbagai gabungan gilda hilang dengan lahirnya pembagian kerja di setiap bengkel pertukangan sendiri-sendiri.
Sementara itu pasar-pasar senantiasa makin meluas, kebutuhan senantiasa bertambah. Sistim manufaktur itupun tak dapat lagi mencukupi. Segera sesudah itu uap dan mesin-mesin merevolusionerkan produksi industri. Kedudukan manufaktur direbut oleh Industri Modern raksasa, kedudukan kelas tengah industri oleh milyuner-milyuner industri, pemimpin-pemimpin kesatuan-kesatuan lengkap dari tentara industri, kaum borjuis modern.
Industri modern telah menciptakan pasar dunia yang telah dibukakan jalannya dengan ditemukannya Amerika. Pasar ini telah memberikan kemajuan maha besar pada perdagangan, pada pelajaran, pada perhubungan di darat. Kemajuan ini, pada gilirannya, bereaksi terhadap meluasnya industri; dan sebanding dengan meluasnya industri, perdagangan, pelajaran, perhubungan kereta api, maka dalam perbandingan yang sama borjuasi pun maju pula, kapitalnya bertambah dan mendesak ke belakang tiap-tiap kelas peninggalan dari Zaman Tengah.
Oleh sebab itu tahulah kita, bagaimana borjuasi modern itu sendiri adalah hasil dari perjalanan perkembangan yang lama, dari suatu rangkaian revolusi-revolusi dalam cara produksi dan cara pertukaran.
Tiap langkah dalam perkembangan borjuasi diikuti oleh suatu kemajuan politik yang sesuai dari kelas itu. Suatu kelas tertindas di bawah kekuasaan bangsawan feodal, suatu perserikatan bersenjata dan memerintah sendiri dalam komune [d] pada Zaman Tengah; di satu tempat berupa republik-kota yang merdeka (seperti di Italia dan Jerman), di lain tempat berupa, "pangkat ketiga" [18] Wajib-pajak dalam monarki (seperti di Perancis), sesudah itu, dalam masa manufaktur yang sebenarnya, dengan mengabdi pada monarki setengah-feodal [19] atau absolut sebagai kekuatan imbangan terhadap kaum bangsawan, dan dalam kenyataannya, batu dasar bagi monarki-monarki besar pada umumnya, maka pada akhirnya borjuasi, sejak berdirinya Industri Modern dan pasar dunia, telah merebut untuk dirinya sendiri segenap kekuasaan politik di dalam Negara konstitusionil modern. Badan eksekutif negara modern hanyalah merupakan sebuah komite untuk mengatur urusan-urusan bersama dari seluruh borjuasi.
Borjuasi, di dalam sejarah, telah memainkan peranan yang sangat revolusioner.
Borjuasi, di mana saja ia telah dapat memperoleh kekuasaan, telah mengakhiri semua hubungan feodal patriarkal pedesaan. Ia dengan tiada kenal kasihan telah merenggut putus pertalian-pertalian feodal yang beraneka ragam yang mengikat manusia pada "atasannya yang wajar", dan tidak meninggalkan ikatan lain antar manusia dengan manusia selain daripada kepentingan sendiri semata-mata, selain daripada "pembayaran tunai" yang kejam. Ia telah menghanyutkan getaran yang paling suci dari damba keagamaan, dari gairah keksatriaan, dari sentimentalisme filistin, ke dalam air dingin perhitungan egois. Ia telah menjatukan harga diri dengan nilai-tukar, dan sebagai ganti dari kebebasan-kebebasan tak terhitung jumlahnya yang telah disahkan oleh undang-undang yang tak boleh dibatalkan itu, ia telah menetapkan satu-satunya kebebasan yang tidak berdasarkan akal - Perdagangan Bebas. Pendek kata, penghisapan yang diselimuti dengan ilusi-ilusi keagamaan dan politik digantikan olehnya dengan penghisapan yang terang-terangan, tak kenal malu, langsung, ganas.
Borjuasi telah menanggalkan anggapan mulia terhadap setiap jabatan yang selama ini dihormati dan dipuja dengan penuh ketaatan. Ia telah mengubah dokter, advokat, pendeta, penyair, sarjana menjadi buruh-upahannya yang dia bayar.
Borjuasi telah merobek dengan kekerasan selubung perasaan kekeluargaan, dan telah memerosotkannya menjadi hubungan-uang belaka.
Borjuasi telah menyingkapkan bagaimana dapat terjadinya hal bahwa pertunjukan kekuatan secara kasar dalam Zaman Tengah, yang begitu dikagumi oleh kaum reaksioner itu, mendapatkan imbangannya yang wajar dan cocok berwujud kemalasan yang paling lamban. Dialah yang pertama-tama memperlihatkan apa yang dapat dihasilkan oleh kegiatan manusia. Ia telah melahirkan keajaiban-keajaiban yang jauh melampaui piramida-piramida Mesir, saluran-saluran air Roma dan katedral-katedral Gotik; ia telah melakukan ekspedisi-ekspedisi yang sangat berlainan dibanding dengan perpindahan-perpindahan bangsa-bangsa [20] serta perang-perang salib [21] di masa dahulu.
Borjuasi tidak dapat hidup tanpa senantiasa merevolusionerkan perkakas-perkakas produksi dan karenanya merevolusionerkan hubungan-hubungan produksi, dan dengan itu semuanya merevolusionerkan segenap hubungan dalam masyarakat. Sebaliknya, mempertahankan cara-cara produksi yang lama dalam bentuknya yang tidak berubah adalah syarat pertama untuk hidup bagi segala kelas industri yang terdahulu. Senantiasa merevolusionerkan produksi, kekacauan tiada putus-putusnya dalam segala syarat.sosial, ketiadaan kepastian serta kegelisahan yang abadi itu membedakan zaman borjuasi dengan semua zaman yang terdahulu. Segala hubungan yang telah ditetapkan dan beku serta berkarat, dengan rentetannya berupa prasangka-prasangka serta pendapat-pendapat kuno yang disegani, disapu bersih, segala yang dibentuk baru menjadi usang sebelum membatu. Segala yang padat hilang larut dalam udara, segala yang suci dinodai, dan pada akhirnya manusia terpaksa menghadapi dengan hati yang tenang syarat-syarat hidupnya yang sebenarnya, dan hubungan-hubungannya dengan sesamanya.
Kebutuhan akan pasar yang senantiasa meluas untuk barang-barang hasilnya mengejar borjuasi ke seluruh muka bumi. Ia harus bersarang di mana-mana, bertempat di mana-mana, mengadakan hubungan-hubungan di mana-mana.
Melalui penghisapannya atas pasar dunia borjuasi telah memberikan sifat kosmopolitan kepada produksi dan konsumsi di tiap-tiap negeri. Kaum reaksioner merasa sedih sekali karena borjuasi telah menarik dari bawah kaki industri bumi nasional tempat ia berdiri.
Semua industri nasional yang sudah tua telah dihancurkan atau sedang dihancurkan setiap hari. Mereka digantikan oleh industri-industri baru yang pelaksanaannya menjadi jadi masalah hidup dan mati bagi semua nasion yang beradab, oleh industri yang tidak lagi mengerjakan bahan mentah dari negeri sendiri, tetapi bahan mentah yang didatangkan dari wilayah-wilayah dunia yang paling jauh letaknya, industri yang barang-barang hasilnya tidak saja dipakai di dalam negeri tetapi di setiap pelosok dunia. Sebagai pengganti kebutuhan-kebutuhan masa lampau yang dipenuhi oleh produksi negeri sendiri, kita mendapatkan kebutuhan-kebutuhan baru, yang untuk memuaskannya diperlukan hasil-hasil dari negeri-negeri serta daerah-daerah iklim yang sangat jauh letaknya. Sebagai pengganti keadaan terasing serta mencukupi-kebutuhan-sendiri secara lokal maupun nasional yang lama, kita dapati hubungan ke segala jurusan, keadaan saling-tergantung yang universal di antara nasion-nasion. Dan seperti halnya dengan produksi material, demikian jugalah keadaannya dalam hal produksi intelek. Ciptaan-ciptaan intelek dari satu-satu nasion menjadi milik bersama. Kesepihakan serta kesempitan pandangan nasional menjadi makin tidak mungkin, dan dari sejumlah besar literatur nasional dan lokal timbullah suatu literatur dunia.
Borjuasi, dengan perbaikan cepat dari segala alat produksi, dengan makin sangat dipermudahnya kesempatan menggunakan alat-alat perhubungan, menarik segala nasion, sampai yang paling biadab pun, ke dalam peradaban. Harga-harga murah dari barang dagangannya merupakan artileri berat yang dengannya ia memporak-porandakan segala tembok-tembok Tiongkok, yang dengannya ia menaklukkan kebencian berkepala batu dari kaum biadab terhadap orang-orang asing. Ia memaksa semua nasion, dengan ancaman akan musnah, cara produksi borjuis; ia memaksa mereka mengemukakan apa yang olehnya disebut peradaban itu ke tengah-tengah lingkungan mereka, yaitu, supaya mereka sendiri menjadi borjuis. Pendek kata, ia menciptakan suatu dunia menurut bayangannya sendiri.
Borjuasi menundukkan desa kepada kekuasaan kota. Ia telah menciptakan kota-kota yang hebat, telah sangat menambah penduduk kota dibanding dengan penduduk desa, dan dengan demikian telah melepaskan sebagian besar penduduk dari kedunguan kehidupan desa. Sebagaimana halnya ia telah menjadikan desa bergantung kepada kota, begitupun ia telah menjadikan negeri biadab dan setengah-biadab bergantung kepada negeri yang beradab, nasion kaum tani kepada nasion kaum borjuis, Timur kepada Barat.
Borjuasi senantiasa makin bersemangat menghapuskan keadaan terpencar-pencar dari penduduk, dari alat-alat produksi, dan dari milik. Ia telah menimbun penduduk, memusatkan alat-alat produksi, dan telah mengkonsentrasi milik ke dalam beberapa tangan. Akibat yang sudah seharusnya dari hal ini adalah pemusatan politik. Propinsi-propinsi yang merdeka atau yang mempunyai hubungan tak begitu erat dengan kepentingan-kepentingan undang-undang pemerintah dan sistim pajak yang berlain-lainan menjadi terpadu sebagai satu nasion dengan satu pemerintah, satu tata undang-undang, satu kepentingan-kelas nasional, satu perbatasan dan satu tarif pabean.
Borjuasi, selama kekuasaannya yang belum genap seratus tahun itu, telah menciptakan tenaga-tenaga produktif yang lebih teguh dan lebih besar daripada yang telah diciptakan oleh generasi-generasi yang terdahulu dijadikan satu. Ditundukkannya kekuatan-kekuatan alam kepada manusia, mesin-mesin, pelajaran kapal api, pengenaan ilmu kimia pada industri dan pertanian, jalan kereta api, pembukaan benua-benua utuh untuk tanah garapan, telegrafi listrik, penyaluran sungai sejumlah sangat besar penduduk yang dengan kekuatan sihir dikeluarkan dari dalam tanah - abad terdahulu manakah yang dapat menduga adanya tenaga-tenaga produktif yang sedemikian itu tertidur dalam pangkuan kerja masyarakat?
Jadi tahulah kita: alat-alat produksi dan alat-alat pertukaran, yang di atas dasarnya borjuasi berkembang, telah ditimbulkan di dalam masyarakat feodal. Pada suatu tingkat tertentu dalam perkembangan alat-alat produksi dan alat-alat pertukaran ini, syarat-syarat tempat masyarakat feodal menghasilkan dan mengadakan pertukaran, organisasi feodal dari pertanian dan industri manufaktur, pendek kata, hubungan-hubungan feodal dari milik menjadi tidak lagi dapat disesuaikan dengan tenaga-tenaga produktif yang sudah berkembang; mereka merupakan belenggu-belenggu yang begitu banyak; mereka harus dipatahkan, mereka memang dipatahkan.
Sebagai gantinya datanglah persaingan bebas, disertai oleh susunan sosial dan politik yang diselaraskan dengannya, dan oleh kekuasaan ekonomi dan politik dari kelas borjuis.
Suatu gerakan yang serupa sedang berlangsung di hadapan mata kepala kita sendiri. Masyarakat borjuis modern dengan hubungan-hubungan produksinya, hubungan-hubungan pertukaran, dan hubungan-hubungan miliknya, suatu masyarakat yang telah menjelmakan alat-alat produksi serta alat-alat pertukaran yang begitu raksasa, adalah seperti tukang sihir yang tidak dapat mengontrol lagi tenaga-tenaga dari alam gaib yang telah dipanggil olehnya dengan mantra-mantranya. Sudah sejak berpuluh-puluh tahun sejarah industri dan perdagangan hanyalah sejarah pemberontakan tenaga-tenaga produktif modern melawan syarat-syarat produksi modern, melawan hubungan-hubungan milik yang merupakan syarat-syarat untuk hidup bagi borjuasi dan kekuasaannya. Cukuplah untuk menyebut krisis-krisis perdagangan yang dengan terulangnya secara periodik, setiap kali lebih berbahaya, mengancam kelangsungan hidup seluruh masyarakat borjuis. Di dalam krisis-krisis ini tidak saja sebagian besar dari baranghasil-baranghasil yang ada, tetapi juga dari tenaga-tenaga produktif yang telah diciptakan terdahulu, dihancurkan secara periodik. Di dalam krisis-krisis ini berjangkitlah wabah yang di dalam zaman-zaman terdahulu akan merupakan suatu kejanggalan - wabah produksi kelebihan. Tiba-tiba masyarakat mendapatkan dirinya terlempar kembali dalam suatu keadaan kebiadaban sementara; nampaknya seakan-akan suatu kelaparan, suatu perang pembinasaan umum telah memusnahkan persediaan segala bahan-bahan keperluan hidup; industri dan perdagangan seakan-akan dihancurkan; dan mengapa? Karena terlampau banyak peradaban, terlampau banyak bahan-bahan keperluan hidup, terlampau banyak industri, terlampau banyak perdagangan. Tenaga-tenaga produktif yang tersedia bagi masyarakat tidak lagi dapat melanjutkan perkembangan syarat-syarat milik borjuis; sebaliknya, mereka telah menjadi terlampau kuat bagi syarat-syarat ini, yang membelenggu mereka, dan segera setelah mereka mengatasi rintangan belenggu-belenggu ini, mereka mendatangkan kekacauan ke dalam seluruh masyarakat borjuis, membahayakan adanya milik borjuis. Syarat-syarat masyarakat borjuis adalah terlampau sempit untuk memuat kekayaan yang diciptakan olehnya. Dan bagaimanakah borjuasi mengatasi krisis-krisis ini? Pada satu pihak, dengan memaksakan penghancuran sejumlah besar tenaga-tenaga produktif, pada pihak lain, dengan merebut pasar-pasar baru dan menghisap pasar-pasar yang lama dengan cara yang lebih sempurna. Itu artinya, dengan membukakan jalan untuk krisis-krisis yang lebih luas dan lebih merusakkan, dan mengurangi syarat-syarat yang dapat mencegah krisis-krisis itu.
Senjata-senjata yang digunakan oleh borjuasi untuk menumbangkan feodalisme sekarang berbalik kepada borjuasi itu sendiri.
Tetapi tidak saja borjuasi itu menempa senjata-senjata yang mendatangkan mautnya sendiri; ia juga telah melahirkan manusia-manusia yang akan menggunakan senjata-senjata itu - kelas buruh modern - kaum proletar.
Dibandingkan dengan berkembangnya borjuasi, artinya, kapital, maka dalam derajat yang itu juga proletariat, kelas buruh modern, telah berkembang - suatu kelas kaum pekerja yang hanya hidup selama mereka mendapat pekerjaan, dan hanya mendapat pekerjaan selama kerja mereka memperbesar kapital. Kaum pekerja ini yang harus menjual dirinya sepotong-sepotong, adalah suatu barang dagangan seperti semua barang dagangan lainnya, dan karenanya diserahkan mentah-mentah kepada segala perubahan dalam persaingan, kepada segala perguncangan pasar.
Disebabkan oleh pemakaian mesin-mesin secara luas dan karena pembagian kerja, hilanglah segala sifat perseorangan dari pekerjaan kaum proletar, dan karena itu hilanglah segala kegairahan bagi si buruh. Ia semata-mata menjadi lampiran-tambahan dari mesin dan hanyalah kecakapan yang paling sederhana, paling menjemukan dan paling mudah didapat, yang dibutuhkan dari dia. Dari itu, biaya produksi dari seorang buruh terbatas hampir semata-mata pada bahan-bahan keperluan hidup yang diperlukan untuk hidupnya dan untuk pembiakan jenisnya. Tetapi harga sesuatu barang dagangan, dan oleh sebab itu juga harga kerja, [22] adalah sama dengan biaya produksinya. Oleh sebab itu sederajat dengan makin tidak menyenangkannya kerja itu, maka turunlah upahnya. Bahkan lebih dari itu, dalam derajat sebagaimana pemakaian mesin-mesin dan pembagian kerja bertambah, dalam derajat yang itu juga beban kerja bertambah, baik dengan memperpanjang jam kerja, dengan menambah banyaknya pekerjaan dalam waktu yang tertentu atau dengan mempertinggi kecepatan mesin-mesin, dsb.
Industri modern telah mengubah bengkel kecil kepunyaan majikan patriarkal menjadi pabrik besar kepunyaan kapitalis industri. Massa kaum buruh yang dikumpulkan dalam pabrik diorganisasi seperti serdadu. Sebagai serdadu biasa dari tentara industri mereka diatur di bawah perintah suatu susunan-kepangkatan yang rapi terdiri dari opsir-opsir dan sersan-sersan. Mereka itu tidak hanya menjadi budak kelas borjuis dan budak negara borjuis saja; mereka itu setiap hari dan setiap jam diperbudak oleh mesin-mesin, oleh mandor-mandor, dan terutama sekali oleh tuan pabrik borjuis orang-seorang itu sendiri. Semakin terang-terangan kelaliman ini menyatakan keuntungan sebagai tujuan dan maksudnya, semakin keji, semakin membencikan dan semakin memarahkanlah dia itu.
Semakin kurang kecakapan dan kurang pemakaian kekuatan yang diperlukan dalam kerja badan, dengan kata-kata lain, semakin industri modern menjadi sempurna, semakin banyak kerja kaum pria yang digantikan oleh kerja kaum wanita. Perbedaan umur dan perbedaan jenis kelamin tidak lagi mempunyai sesuatu arti kemasyarakatan yang penting bagi kelas buruh. Semuanya adalah perkakas kerja, kurang atau lebih mahalnya untuk dipakai, bergantung pada umur dan jenis kelamin mereka.
Jika penghisapan atas pekerja oleh pengusaha sudah sampai sedemikian jauhnya sehingga ia menerima upahnya dengan tunai, maka diterkamlah ia oleh bagian-bagian lain dari borjuasi, tuan tanah, tuan toko, pemilik pegadaian, dsb.
Lapisan rendahan dari kelas tengah - kaum pengusaha kecil, tuan toko dan tukang riba [23] umumnya, kaum pekerja-tangan dan kaum tani - semua ini berangsur-angsur jatuh menjadi proletariat, sebagian oleh karena kapitalnya yang kecil tidak cukup untuk menjalankan industri besar dan menderita kekalahan dalam persaingan dengan kaum kapitalis besar, sebagian oleh karena keahlian mereka menjadi tidak berharga untuk cara-cara produksi yang baru. Begitulah proletariat terjadi dari segala kelas penduduk.
Proletariat melalui berbagai tingkat perkembangan. Bersamaan dengan lahirnya, mulailah perjuangannya terhadap borjuasi. Mula-mula perjuangan itu dilakukan oleh kaum buruh orang-seorang, kemudian oleh buruh suatu pabrik, kemudian oleh buruh dari satu macam perusahaan di satu tempat melawan borjuis orang-seorang yang langsung menghisap mereka. Mereka tidak mengerahkan serangan-serangannya terhadap syarat-syarat produksi borjuis, tetapi terhadap perkakas-perkakas produksi itu sendiri; mereka merusakkan barang-barang impor yang menyaingi kerja mereka, mereka menghancurkan mesin-mesin, mereka membakar pabrik-pabrik, mereka mencoba mengembalikan dengan paksa kedudukan pekerja dari Zaman Tengah [24] yang telah hilang itu.
Pada tingkat tersebut kaum buruh merupakan suatu massa yang lepas tersebar di seluruh negeri dan terpecah belah oleh persaingan di kalangan mereka sendiri. Jika di sesuatu tempat mereka bersatu membentuk badan-badan yang lebih erat terhimpun, ini belumlah akibat dari persatuan yang aktif dari mereka sendiri, tetapi dari persatuan borjuasi, kelas yang untuk mencapai tujuan politiknya sendiri terpaksa menggerakkan seluruh proletariat, tambahan pula karena untuk sementara waktu mereka masih dapat berbuat demikian. Oleh karena itu, pada tingkat tersebut kaum proletar tidak melawan musuh-musuhnya, tetapi musuh-musuh dari musuh mereka, yaitu sisa-sisa monarki absolut, kaum pemilik tanah, borjuis bukan-industri, borjuasi kecil. Dengan demikian seluruh gerakan yang bersejarah itu berpusat di dalam tangan borjuasi; tiap-tiap kemenangan yang dicapai dengan cara demikian adalah kemenangan bagi borjuasi.
Tetapi dengan berkembangnya industri, proletariat tidak saja bertambah jumlahnya; ia menjadi terkonsentrasi di dalam massa yang lebih besar, kekuatannya bertambah besar dan ia semakin merasakan kekuatan itu. Kepentingan-kepentingan dan syarat-syarat hidup yang bermacam ragam di dalam barisan proletariat semakin lama semakin menjadi sama, sederajat dengan dihapuskannya segala perbedaan kerja oleh mesin-mesin dan dengan diturunkannya upah hampir di mana-mana sampai pada tingkat yang sama rendahnya. Persaingan yang semakin menjadi di kalangan kaum borjuis dan krisis-krisis perdagangan yang diakibatkannya, menyebabkan upah kaum buruh senantiasa berguncang. Perbaikan mesin-mesin yang tidak henti-hentinya itu senantiasa berkembang dengan lebih cepat, menyebabkan penghidupan mereka makin lama makin tidak tentu; bentrokan-bentrokan antara buruh orang-seorang dengan borjuis orang-seorang makin lama makin bersifat bentrokan-bentrokan antara dua kelas. Sesudah itu kaum buruh mulai membentuk perkumpulan-perkumpulan menentang kaum borjuis; mereka berhimpun untuk mempertahankan upah-kerja mereka; mereka mendirikan perserikatan-perserikatan yang tetap untuk mempersiapkan diri guna perlawanan yang sewaktu-waktu ini. Di sana-sini perjuangan itu meletus menjadi huru-hara.
Kadang-kadang kaum buruh memperoleh kemenangan, tetapi hanya untuk sementara waktu. Buah yang sebenarnya dari perjuangan mereka tidak terletak pada hasil yang langsung, tetapi pada senantiasa makin meluasnya persatuan kaum buruh. Persatuan ini dibantu terus oleh kemajuan-kemajuan alat-alat perhubungan yang dibuat oleh industri modern dan yang membawa kaum buruh dari berbagai daerah berhubungan satu dengan yang lain. Justru perhubungan inilah yang diperlukan untuk memusatkan perjuangan-perjuangan lokal yang banyak itu, yang kesemuanya mempunyai sifat yang sama, menjadi satu perjuangan nasional antara kelas-kelas. Tetapi tiap perjuangan kelas adalah suatu perjuangan politik. Dan persatuan ini, yang untuk mencapainya, wargakota pada Zaman Tengah dengan jalan-jalan mereka yang sangat buruk memerlukan waktu yang berabad-abad lamanya, berkat adanya jalan-jalan kereta api, dicapai oleh kaum proletar modern dalam beberapa tahun saja.
Terorganisasinya kaum proletar menjadi kelas ini, dan dengan sendirinya menjadi partai politik, senantiasa dirusak kembali oleh persaingan di antara kaum buruh sendiri. Tetapi ia selalu bangun kembali, lebih kuat, lebih teguh, lebih perkasa. la memaksakan pengakuan berdasarkan undang-udang atas kepentingan-kepentingan tertentu dari kaum buruh dengan jalan menggunakan perpecahan di dalam kalangan borjuasi sendiri. Maka lahirlah undang-undang sepuluh-jam di Inggris.
Kesimpulannya ialah bahwa bentrokan-bentrokan antara kelas-kelas di dalam masyarakat lama, dengan berbagai cara, mendorong maju perkembangan proletariat. Borjuasi terlibat dalam perjuangan yang terus-menerus. Mula-mula dengan aristokrasi; kemudian dengan bagian-bagian dari borjuasi itu sendiri yang mempunyai kepentingan-kepentingan yang bertentangan dengan kemajuan industri; dan selamanya dengan borjuasi negeri-negeri asing semuanya. Di dalam segala perjuangan ini ia merasa terpaksa berseru kepada proletariat, meminta bantuannya, dan dengan begitu menarik proletariat ke dalam gelanggang politik. Oleh karena itu, borjuasi itu sendiri membekali proletariat dengan anasir-anasir politik dan pendidikan-umumnya sendiri, dengan perkataan lain, ia melengkapi proletariat itu dengan senjata-senjata untuk melawan borjuasi.
Selanjutnya, sebagaimana yang telah kita ketahui, golongan-golongan keseluruhan dari kelas yang berkuasa, dengan majunja industri, tercampak ke dalam proletariat, atau setidak-tidaknya terancam di dalam syarat-syarat mereka untuk hidup. Hal ini juga memberikan kepada proletariat anasir-anasir kesadaran dan kemajuan yang segar.
Akhirnya, dalam waktu ketika perjuangan kelas mendekati saat yang menentukan, proses kehancuran yang berlaku di dalam kelas yang berkuasa, pada hakekatnya di dalam seluruh masyarakat lama seutuhnya, mencapai watak yang demikian keras dan tegasnya, sehingga segolongan kecil dari kelas yang berkuasa memutuskan hubungannya dan menyatukan diri dengan kelas yang revolusioner, kelas yang memegang hari depan di dalam tangannya. Oleh karena itu, sama seperti ketika zaman terdahulu, segolongan dari kaum bangsawan memihak kepada borjuasi, maka sekarang segolongan dari borjuasi memihak kepada proletariat, dan terutama segolongan dari kaum ideologis borjuis yang telah mengangkat dirinya sampai pada taraf memahami secara teori gerakan yang bersejarah itu sebagai keseluruhan.
Dari semua kelas yang sekarang berdiri berhadap-hadapan dengan borjuasi, hanya proletariatlah satu-satunya kelas yang betul-betul revolusioner. Kelas-kelas lainnya melapuk dan akhimya lenyap ditelan industri besar, hanya proletariatlah yang menjadi hasilnya yang istimewa dan yang hakiki.
Kelas tengah rendahan, tuan pabrik kecil, tuan toko, tukang, petani, semuanya ini, berjuang melawan borjuasi, untuk menyelamatkan hidup mereka sebagai golongan dari kelas tengah hindar dari kemusnahan. Oleh karena itu mereka tidak revolusioner, tetapi konservatif. Bahkan lebih dari itu, mereka itu reaksioner, karena mereka mencoba memutar kembali roda sejarah. Jika secara kebetulan mereka itu revolusioner, maka mereka berlaku demikian itu hanyalah karena melihat akan bahaya mendekat berupa kepindahan mereka ke dalam proletariat, jadi mereka tidak membela kepentingan-kepentingannya yang sekarang, tetapi kepentingan-kepentingannya di masa datang, mereka meninggalkan pendiriannya sendiri untuk menempatkan dirinya pada pendirian proletariat.
Proletariat-gelandangan [25], massa yang membusuk secara pasif dari kalangan lapisan-lapisan terendah masyarakat lama, di sana-sini terseret ke dalam gerakan oleh suatu revolusi proletar; akan tetapi syarat-syarat hidupnya, menjadikan dia lebih condong untuk melakukan peranan sebagai perkakas yang disuap untuk mengadakan huru-hara reaksioner.
Syarat-syarat hidup masyarakat lama sudah dihancurkan di dalam syarat-syarat hidup proletariat. Proletar tidak mempunyai milik; hubungannya dengan isteri dan anak tidak ada lagi persamaannya dengan hubungan keluarga borjuasi; kerja industri modern, penundukan modern di bawah kapital, yang sama saja baik di Inggris maupun di Perancis, di Amerika maupun di Jerman, telah menghilangkan segala bekas watak nasional daripadanya. Undang-undang moral, agama, baginya adalah sama dengan segala prasangka borjuis, yang di belakangnya bersembunyi segala macam kepentingan-kepentingan borjuis.
Semua kelas terdahulu yang memperoleh kekuasaan, berusaha memperkuat kedudukan yang telah diperolehnya dengan menundukkan masyarakat dalam keseluruhannya kepada syarat-syarat pemilikan mereka. Kaum proletar tidak dapat menjadi tuan atas tenaga-tenaga produktif dalam masyarakat, kecuali dengan menghapuskan cara pemilikan mereka sendiri yang terdahulu atas tenaga-tenaga produktif, dan dengan begitu menghapuskan juga segala cara pemilikan lain yang terdahulu. Mereka tidak mempunyai sesuatu pun yang harus dilindungi dan dipertahankan, tugas mereka ialah menghancurkan segala perlindungan dan jaminan yang terdahulu atas milik perseorangan.
Semua gerakan sejarah yang terdahulu adalah gerakan dari minoritet-minoritet, atau untuk kepentingan minoritet-minoritet. Gerakan proletar adalah gerakan yang sadar-diri dan berdiri sendiri dari mayoritet yang melimpah, untuk kepentingan mayoritet yang melimpah. Proletariat, lapisan yang paling rendah dari masyarakat kita sekarang, tidak dapat bergerak, tidak dapat mengangkat dirinya ke atas, tanpa hancur luluhnya seluruh lapisan atas dari masyarakat yang resmi.
Walaupun tidak dalam isinya tetapi dalam bentuknya, perjuangan proletariat dengan borjuasi adalah mula-mula suatu perjuangan nasional. Proletariat di masing-masing negeri tentu saja pertama-tama harus membuat perhitungan dengan borjuasinya sendiri.
Dalam melukiskan fase-fase yang paling umum dari perkembangan proletariat, kita turuti jejak peperangan dalam negeri, yang lebih atau kurang tersembunyi yang bergolak di dalam masyarakat yang ada, sampai pada titik di mana peperangan itu meletus menjadi revolusi terang-terangan, dan di mana penggulingan borjuasi dengan kekerasan meletakkan landasan bagi kekuasaan proletariat.
Hingga kini, sebagaimana yang telah kita ketahui, segala bentuk masyarakat telah didasarkan atas antagonisme antara kelas-kelas yang menindas dengan kelas-kelas yang tertindas. Tetapi untuk dapat menindas suatu kelas, haruslah dijamin syarat-syarat tertentu untuknya di mana ia setidak-tidaknya dapat melanjutkan hidupnya sebagai budak. Si hamba, dalam zaman perhambaan, meningkatkan dirinya menjadi anggota komune, seperti juga halnya dengan si borjuis kecil, di bawah tindakan absolutisme feodal, mengembangkan dirinya menjadi borjuis. Sebaliknya, buruh modern bukannya terangkat naik dengan adanya kemajuan industri, tetapi bahkan senantiasa makin jatuh merosot di bawah syarat-syarat hidup kelasnya sendiri. Ia menjadi orang melarat dan kemelaratan berkembang lebih cepat daripada penduduk dan kekayaan. Dan di sinilah menjadi terang, bahwa borjuasi tidak pada tempatnya lagi untuk menjadi kelas yang berkuasa di dalam masyarakat, dan tidak mampu lagi untuk memaksakan syarat-syarat hidupnya kepada masyarakat sebagai undang-undang yang menentukan. Ia tidak cakap memerintah karena ia tidak mampu menjamin penghidupan bagi budaknya di dalam rangka perbudakannya itu, karena ia terpaksa membiarkan budaknya tenggelam ke dalam keadaan yang sedemikian rupa sehingga ia harus memberi makan kepada budaknya, dan bukannya ia diberi makan oleh budaknya. Masyarakat tidak dapat lagi hidup di bawah borjuasi ini, dengan perkataan lain, adanya borjuasi tidak dapat didamaikan lagi dengan masyarakat.
Syarat terpokok untuk hidupnya, dan berkuasanya kelas borjuis, adalah terbentuknya dan bertambah besarnya kapital; syarat untuk kapital ialah kerja-upahan. Kerja-upahan semata-mata bersandar pada persaingan di antara kaum buruh sendiri. Kemajuan industri, yang pendorongnya dengan tak sengaja adalah borjuasi, menggantikan terpencilnya kaum buruh, yang disebabkan oleh persaingan, dengan tergabungnya mereka secara revolusioner, yang diperoleh karena perserikatan. Perkembangan industri besar, karenanya, merenggut dari bawah kaki borjuasi landasan itu sendiri yang di atasnya borjuasi menghasilkan dan memiliki hasil-hasil. Oleh sebab itu, apa yang dihasilkan oleh borjuasi ialah, terutama sekali, penggali-penggali liang kuburnya sendiri. Keruntuhan borjuasi dan kemenangan proletariat adalah sama-sama tidak dapat dielakkan lagi.
II. Kaum proletar dan kaum Komunis
Bagaimanakah hubungan antara kaum Komunis dengan kaum proletar umumnya ?
Kaum Komunis tidak merupakan suatu partai tersendiri yang bertentangan dengan partai-partai kelas buruh lainnya.
Mereka tidak mempunyai kepentingan-kepentingan tersendiri dan terpisah dari kepentingan-kepentingan proletariat sebagai keseluruhan.
Mereka tidak mengadakan prinsip-prinsip sendiri yang sektaris, yang hendak dijadikan pola bagi gerakan proletar.
Kaum Komunis dibandingkan dengan partai-partai kelas buruh lainnya berbeda hanyalah karena hal ini:
1. Di dalam perjuangan nasional dari kaum proletar di berbagai negeri, mereka menunjukkan serta mengedepankan kepentingan-kepentingan bersama dari seluruh proletariat, terlepas dari segala nasionalitet.
2. Pada berbagai tingkat perkembangan yang harus dilalui oleh perjuangan kelas buruh melawan borjuasi, mereka senantiasa dan di mana saja mewakili kepentingan-kepentingan gerakan itu sebagai keseluruhan.
Oleh sebab itu kaum Komunis, pada satu pihak, pada prakteknya adalah bagian yang paling maju dan teguh hati dari partai-partai kelas buruh di setiap negeri, bagian yang mendorong maju semua bagian lain-lainnya; pada pihak lain, secara teori mereka mempunyai kelebihan atas massa proletariat yang besar itu dalam pengertian tentang garis perjalanan, syarat-syarat, dan hasil-hasil umum terakhir dari gerakan proletar.
Tujuan terdekat dari kaum Komunis adalah sama dengan tujuan semua partai proletar lain-lainnya: pembentukan proletariat menjadi suatu kelas, penggulingan kekuasaan borjuasi, perebutan kekuasaan politik oleh proletariat.
Kesimpulan-kesimpulan secara teori dari kaum Komunis sama sekali bukanlah berdasar pada pikiran-pikiran atau prinsip-prinsip yang telah diciptakan, atau yang ditemukan oleh salah seorang pembaharu-dunia.
Kesimpulan-kesimpulan itu hanya menyatakan semata-mata, secara umum, hubungan-hubungan yang sebenarnya yang timbul dari suatu perjuangan kelas yang sedang berlaku, dari suatu gerakan sejarah yang sedang berjalan di depan mata kita. Penghapusan hubungan-hubungan milik yang ada sekarang sama sekali bukanlah suatu ciri yang istimewa dari Komunisme.
Segala hubungan milik di masa lampau senantiasa tunduk pada perubahan kesejarahan yang diakibatkan oleh perubahan syarat-syarat sejarah.
Revolusi Perancis misalnya, menghapuskan milik feodal untuk memberi tempat kepada milik borjuis. [26]
Ciri istimewa Komunisme - bukanlah penghapusan milik pada umumnya, tetapi penghapusan milik borjuis. Tetapi milik perseorangan borjuis modern adalah pernyataan terakhir dan paling sempurna dari sistim menghasilkan dan memiliki hasil-hasil yang didasarkan pada antagonisme-antagonisme kelas, pada penghisapan terhadap yang banyak oleh yang sedikit.
Dalam artian ini, teori kaum Komunis dapatlah diikhtisarkan dalam satu kalimat saja: Penghapusan milik perseorangan.
Kita kaum Komunis telah dimaki bahwa kita ingin menghapuskan hak atas milik yang diperdapat seseorang sebagai hasil kerja orang itu sendiri, milik yang dianggap sebagai dasar dari semua kemerdekaan, kegiatan dan kebebasan seseorang.
Milik yang diperoleh dengan membanting tulang, yang direbut sendiri, yang dicari sendiri secara halal! Apakah yang tuan maksudkan itu milik si tukang kecil, milik si tani kecil, suatu bentuk milik yang mendahului bentuk milik borjuis ? Itu tidak perlu dihapuskan; perkembangan industri telah menghancurkannya banyak sekali, dan masih terus menghancurkannya setiap harinya.
Ataukah yang tuan maksudkan itu milik perseorangan borjuis modern?
Tetapi adakah kerja-upahan, kerja si proletar, mendatangkan sesuatu milik untuk dia? Sama sekali tidak. Ia menciptakan kapital, yaitu semacam milik yang menghisap kerja-upahan, dan yang tidak dapat bertambah besar kecuali dengan syarat bahwa ia menghasilkan kerja-upahan baru untuk penghisapan baru. Milik dalam bentuknya yang sekarang ini adalah didasarkan pada antagonisme antara kapital dengan kerja-upahan. Marilah kita periksa kedua belah segi dari antagonisme ini.
Untuk menjadi seorang kapitalis, orang tidak saja harus mempunjai kedudukan perseorangan semata-mata, tetapi kedudukan sosial dalam produksi. Kapital adalah suatu hasil kolektif, dan ia hanya dapat digerakkan oleh tindakan bersama dari banyak anggota, malahan lebih dari itu, pada tingkatan terakhir, ia hanya dapat digerakkan oleh tindakan bersama dari semua anggota masyarakat.
Oleh karena itu kapital bukanlah suatu kekuasaan pribadi, ia adalah suatu kekuasaan sosial.
Jadi, jika kapital itu dijadikan milik bersama, menjadi milik semua anggota masyarakat, dengan itu milik pribadi tidak diubah menjadi milik sosial. Hanyalah watak sosial milik yang diubah. Watak kelasnya hilang.
Marilah kita sekarang bicara tentang kerja-upahan.
Harga rata-rata dari kerja-upahan ialah upah minimum, yaitu jumlah bahan-bahan keperluan hidup yang mutlak diperlukan untuk mempertahankan buruh sebagai seorang buruh dalam hidup sekedarnya. Oleh karena itu, apa yang telah dimiliki oleh buruh-upahan berkat kerjanya, hanyalah cukup untuk memperpanjang dan melanjutkan lagi hidup yang sekedarnya itu. Kita sekali-kali tidak bermaksud untuk menghapuskan pemilikan pribadi atas hasil-hasil kerja ini, pemilikan yang digunakan untuk mempertahankan dan melanjutkan lagi hidup biasa sebagai Manusia, dan yang tidak menyisakan kelebihan yang dapat digunakan untuk menguasai kerja orang-orang lain. Yang hendak kita hapuskan hanyalah watak celaka dari pemilikan ini, di mana buruh hidup hanya untuk memperbesar kapital belaka, dan dibolehkan hidup hanya selama kepentingan kelas yang berkuasa memerlukannya.
Di dalam masyarakat borjuis, kerja yang hidup ini hanyalah suatu alat untuk memperbanyak kerja yang telah tertimbun. Di dalam masyarakat Komunis, kerja yang tertimbun itu hanyalah suatu alat untuk memperluas, memperkaya, memajukan kehidupan buruh.
Di dalam masyarakat borjuis, karenanya, masa lampau menguasai masa kini; di dalam masyarakat Komunis, masa kini menguasai masa lampau. Di dalam masyarakat borjuis, kapital adalah bebas merdeka dan mempunyai kepribadian, sedang manusia yang bekerja tidak bebas dan tidak mempunyai kepribadian.
Dan penghapusan keadaan begini ini dikatakan oleh kaum borjuis, penghapusan kepribadian dan kemerdekaan! Dan memang begitu. Penghapusan kepribadian borjuis, penghapusan kebebasan borjuis dan kemerdekaan borjuis itulah yang memang dituju.
Dengan kemerdekaan diartikan, di bawah syarat-syarat produksi borjuis sekarang ini, perdagangan bebas, penjualan dan pembelian bebas.
Tetapi jika penjualan dan pembelian itu lenyap, penjualan dan pembelian bebas itupun lenyap juga.
Obrolan tentang penjualan dan pembelian bebas ini, dan segala "kata-kata gagah" lainnya dari borjuasi mengenai kemerdekaan pada umumnya, mempunyai arti, jika ada, hanya jika dibandingkan dengan penjualan dan pembelian terbatas, dengan pedagang-pedagang terbelenggu dari Zaman Tengah, tetapi tidak mempunyai arti jika dipertentangkan dengan penghapusan secara Komunis atas penjualan dan pembelian, atas cara produksi borjuis, dan atas borjuasi itu sendiri.
Tuan merasa ngeri karena maksud kami untuk menghapuskan milik perseorangan. Tetapi di dalam rnasyarakat tuan yang ada sekarang ini, milik perseorangan sudah dihapuskan bagi sembilan persepuluh dari penduduk; ia ada pada beberapa orang justru karena ia tidak ada pada mereka yang sembilan persepuluh itu. Jadi tuan memaki kami karena kami bermaksud menghapuskan suatu bentuk milik, yang untuk adanya diperlukan syarat berupa tidak adanya suatu milik apa pun bagi mayoritet melimpah dari masyarakat.
Pendek kata, tuan memaki kami bahwa kami bermaksud menghapuskan milik tuan. Memang begitu, itulah justru yang kami maksudkan.
Sejak dari saat ketika kerja tidak lagi dapat dijadikan kapital, uang, atau sewa, [27] dijadikan suatu kekuasaan sosial yang dapat dimonopolisasi, artinya, sejak dari saat ketika milik pribadi tidak dapat lagi dijadikan milik borjuis, dijadikan kapital, sejak dari saat itu, tuan katakan, kepribadian telah hilang.
Maka itu tuan harus mengakui bahwa yang tuan maksudkan dengan pribadi adalah tidak lain daripada seorang borjuis, seorang pemilik borjuis. Orang ini memang harus disapu bersih dan tidak diberi kemungkinan untuk hidup.
Komunisme tidak menghapuskan kekuasaan seseorang untuk memiliki hasil-hasil masyarakat; apa yang dilakukannya hanyalah merampas kekuasaan seseorang untuk menjadikan kerja orang lain takluk kepadanya dengan cara pemilikan semacam itu.
Orang telah mengemukakan keberatan bahwa dengan penghapusan milik perseorangan akan berhentilah semua pekerjaan, dan kemalasan umum akan merajalela.
Menurut pendapat ini, masyarakat borjuis tentunya sudah lama lenyap karena kemalasan semata-mata; karena mereka dari anggota-anggotanya yang bekerja, tidak mendapat apa-apa, dan mereka yang mendapat sesuatu, tidak bekerja. Seluruh keberatan ini hanyalah ungkapan lain dari kata-kata yang sama artinya: tak ada lagi kerja-upahan apabila tak ada lagi kapital.
Semua keberatan yang dikemukakan terhadap cara menghasilkan dan memiliki hasil-hasil material secara Komunis telah dikemukakan juga terhadap cara menghasilkan dan memiliki hasil-hasil intelek secara Komunis. Justru karena bagi kaum borjuis itu, lenyapnya milik kelas berarti lenyapnya produksi itu sendiri, maka lenyapnya kebudayaan kelas baginya berarti juga lenyapnya semua kebudayaan.
Kebudayaan itu, yang hilangnya sangat ditangisi olehnya, bagi golongan terbanyak yang melimpah hanyalah berarti bahwa mereka itu dijadikan mesin.
Tetapi janganlah ribut bertengkar dengan kami selama terhadap penghapusan milik borjuis yang kami maksudkan itu tuan mengenakan ukuran anggapan-anggapan borjuis tuan tentang kemerdekaan, kebudayaan, hukum, dsb. Pikiran-pikiran tuan itu justru adalah tidak lain daripada buah yang dihasilkan oleh syarat-syarat produksi borjuis dan milik borjuis tuan, tepat seperti halnya dengan ilmu hukum tuan adalah tidak lain daripada kemauan kelas tuan yang dijadikan undang-undang untuk semua, suatu kemauan, yang tujuan serta wataknya yang hakiki ditentukan oleh syarat-syarat hidup ekonomi kelas tuan.
Anggapan egoistis yang menyebabkan tuan mengubah bentuk-bentuk sosial yang timbul, dari cara produksi dan bentuk milik tuan sekarang ini--hubungan-hubungan kesejarahan yang timbul dan lenyap selama gerak maju produksi--menjadi hukum alam dan hukum akal yang abadi, anggapan ini sama dengan anggapan semua kelas berkuasa yang telah mendahului tuan. Apa yang sudah jelas tuan ketahui tentang milik kuno [28], apa yang sudah tuan akui tentang milik feodal, tentu saja akan terlarang bagi tuan untuk mengakui tentang bentuk milik borjuis tuan sendiri.
Penghapusan keluarga! Orang yang paling radikal pun akan naik darah karena maksud keji kaum Komunis ini.
Didasarkan atas landasan apakah keluarga sekarang, keluarga borjuis itu? Atas kapital, atas hasil pendapatan perseorangan. Dalam bentuknya yang berkembang sempurna keluarga semacam ini terdapat hanya di kalangan borjuasi saja. Tetapi keadaan ini mempunyai pelengkapnya berupa ketiadaan keluarga yang terpaksa di kalangan kaum proletar, dan berupa pelacuran umum.
Keluarga borjuis akan lenyap dengan sendirinya apabila pelengkapnya lenyap, dan kedua-duanya akan lenyap bersama dengan lenyapnya kapital.
Apakah tuan menuduh kami hendak menghentikan penghisapan anak-anak oleh orang tuanya? Kami mengakui kejahatan ini.
Tetapi, tuan akan berkata, kami menghancurkan hubungan-hubungan yang paling mesra, karena kami mengganti pendidikan rumah dengan pendidikan sosial.
Dan apakah pendidikan tuan tidak juga ditentukan oleh masyarakat? Oleh hubungan-hubungan sosial, yang di bawah syarat-syaratnya tuan mendidik, oleh campur tangan langsung, atau tidak langsung dari masyarakat dengan perantaraan sekolah-sekolah, dsb.? Kaum Komunis tidak menciptakan campur tangan masyarakat dalam pendidikan; mereka hanya berusaha untuk mengubah watak campur tangan itu, dan untuk menyelamatkan pendidikan agar hindar dari pengaruh kelas yang berkuasa.
Obrolan borjuis tentang keluarga dan pendidikan, tentang ikatan mesra antara ibu-bapak dengan anak, menjadi makin memuakkan, seiring dengan, karena akibat industri besar, makin terputusnya segala ikatan keluarga di kalangan kaum proletar, dan makin terubahnya anak-anak mereka menjadi barang dagangan biasa dan perkakas kerja.
Tetapi kalian kaum Komunis hendak melakukan hak bersama atas kaum wanita, teriak seluruh borjuasi dengan serentak.
Borjuis memandang isterinya hanya sebagai suatu perkakas produksi belaka. Ia mendengar bahwa perkakas-perkakas produksi akan digunakan bersama, dan tentu saja tidak akan sampai pada kesimpulan lain kecuali bahwa nasib dipergunakan bersama itu akan menimpa pula kaum wanita.
Ia sama sekali tidak mempunyai dugaan bahwa sasaran sebenarnya yang dituju ialah justru menghapuskan kedudukan kaum wanita sebagai perkakas produksi semata-mata.
Lain daripada itu tak ada lagi yang lebih menggelikan daripada kegusaran borjuis kita terhadap apa yang mereka namakan hak-bersama atas kaum wanita yang secara resmi berlaku di kalangan kaum Komunis. Kaum Komunis tidak perlu melakukan hak-bersama atas kaum wanita; hal ini telah ada hampir sepanjang segala zaman.
Borjuis kita tidak puas dengan hal bahwa untuk mereka ada tersedia isteri-isteri dan anak-anak gadis kaum proletar, belum lagi pelacur-pelacur biasa, sangat gemar saling menggoda isteri-isteri yang satu dengan lainnya di kalangan mereka sendiri.
Dalam kenyataannya perkawinan borjuis adalah suatu sistim isteri-isteri untuk bersama. Kaum Komunis paling banyak hanyalah dapat dituduh bahwa mereka hendak melakukan hak-bersama atas kaum wanita secara sah dan terang-terangan, untuk mengganti yang tersembunyi secara munafik. Lain daripada itu, teranglah dengan sendirinya bahwa hapusnya sistim produksi yang sekarang ini tentu mengakibatkan pula hapusnya hak-bersama atas kaum wanita yang timbul dari sistim tersebut, ialah hapusnya pelacuran baik yang resmi maupun yang tidak resmi.
Selanjutnya kaum Komunis dituduh hendak menghapuskan tanah air dan nasionalitet.
Kaum buruh tidak mempunyai tanah air. Kita tidak dapat mengambil dari mereka apa yang tidak ada pada mereka. Karena proletariat pertama sekali harus merebut kekuasaan politik, harus mengangkat dirinya menjadi kelas yang memimpin dari nasion, harus mewujudkan dirinya sebagai nasion, maka sejauh itu ia bersifat nasional, biarpun tidak dalam arti kata menurut borjuasi.
Perselisihan-perselisihan dan antagonisme-antagonisme nasional antara bangsa-bangsa makin lama makin menghilang, disebabkan oleh perkembangan borjuasi, oleh kemerdekaan berdagang, oleh pasar dunia, oleh keseragaman dalam cara produksi dan dalam syarat-syarat hidup yang selaras dengan itu.
Kekuasaan proletariat akan lebih mempercepat hilangnya itu semua. Aksi yang bersatu, paling tidak dari negeri-negeri yang beradab, adalah salah satu syarat utama untuk pembebasan proletariat.
Sederajat dengan dihapuskannya penghisapan atas seseorang oleh orang lainnya, dihapuskan jugalah penghisapan atas suatu nasion oleh nasion lainnya. Sederajat dengan hilangnya antagonisme antara kelas-kelas dalam suatu nasion, berakhir jugalah permusuhan suatu nasion terhadap nasion lainnya.
Tuduhan-tuduhan terhadap Komunisme yang didasarkan pada pendirian agama, filsafat dan, pada umumnya, pendirian ideologi tidaklah perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh.
Apakah diperlukan penglihatan yang dalam, untuk memahami bahwa pikiran, pandangan dan pengertian manusia, pendek kata, kesadaran manusia, berubah dengan tiap-tiap perubahan dalam syarat-syarat hidup materilnya, dalam hubungan-hubungan sosialnya dan dalam kehidupan sosialnya?
Hal lain apakah yang dibuktikan oleh sejarah pikiran, kecuali bahwa produksi intelek mengubah wataknya sederajat dengan hal bahwa produksi materil telah berubah? Pikiran-pikiran yang menguasai dalam tiap-tiap zaman adalah senantiasa pikiran-pikiran kelas yang berkuasa.
Apabila orang berbicara tentang pikiran-pikiran yang merevolusionerkan masyarakat, ia tidak lain hanyalah, mengungkapkan kenyataan, bahwa di dalam masyarakat lama, anasir-anasir dari suatu masyarakat baru telah diciptakan, dan bahwa leburnya pikiran-pikiran lama berjalan dengan langkah-langkah yang sama dengan leburnya syarat-syarat hidup yang lama.
Ketika dunia kuno sedang mendekati ajalnya, agama-agama kuno ditaklukkan oleh agama Kristen. Ketika pikiran-pikiran Kristen dalam abad ke-18 tunduk pada pikiran-pikiran rasionil, masyarakat feodal melakukan perjuangan mautnya melawan borjuasi yang ketika itu revolusioner. Pikiran-pikiran tentang kebebasan beragama dan kemerdekaan menganut suara hati, hanyalah mengungkapkan adanya kekuasaan persaingan bebas di dalam bidang pengetahuan.
"Tak dapat disangkal lagi," demikian orang akan berkata, pikiran-pikiran bersendikan agama, moral, filsafat, hukum, dsb. telah berubah dalam perjalanan perkembangan sejarah. Tetapi agama, moral, filsafat, ilmu politik, dan hukum, senantiasa tetap bertahan dan mengatasi pergantian ini.
"Kecuali itu, ada kebenaran-kebenaran abadi, semacam Kemerdekaan, Keadilan, dsb., yang lazim berlaku untuk segala keadaan masyarakat. Tetapi Komunisme menghapuskan kebenaran-kebenaran abadi, ia menghapuskan semua agama, dan semua moral, dan bukannya menyusun semuanya itu atas dasar yang baru; karenanya ia bertindak bertentangan dengan segala pengalaman sejarah yang lampau."
Apakah jadinya arti tuduhan ini? Sejarah dari seluruh masyarakat masa lampau terdiri dari perkembangan antagonisme-antagonisme kelas, antagonisme-antagonisme yang mempunyai berbagai bentuk dalam berbagai zaman.
Tetapi bagaimanapun juga bentuknya, satu kenyataan adalah sama untuk segala zaman yang telah lampau, yaitu, penghisapan atas sebagian dari masyarakat oleh suatu bagian yang lain. Maka tidaklah mengherankan bahwa kesadaran sosial dari abad-abad yang lampau, biarpun terdapat segala kebanyak ragaman dan corak, bergerak dalam bentuk-bentuk tertentu yang sama, atau pikiran-pikiran umum, yang tidak dapat hilang sepenuhnya kecuali dengan lenyapnya sama sekali antagonisme-antagonisme kelas.
Revolusi Komunis adalah pemutusan yang paling radikal dengan hubungan-hubungan milik yang tradisionil; tidaklah mengherankan bahwa perkembangannya membawa serta pemutusan yang paling radikal dengan pikiran-pikiran yang tradisionil.
Tetapi marilah kita biarkan saja dulu, keberatan-keberatan borjuis terhadap Komunisme.
Telah kita lihat di atas, bahwa langkah pertama dalam revolusi kelas buruh, adalah mengangkat proletariat pada kedudukan kelas yang berkuasa, memenangkan perjuangan demokrasi.
Proletariat akan menggunakan kekuasaan politiknya untuk merebut, selangkah demi selangkah, semua kapital dari borjuasi, memusatkan semua perkakas produksi ke dalam tangan Negara, artinya, proletariat yang terorganisasi sebagai kelas yang berkuasa [29]; dan untuk meningkatkan jumlah tenaga-tenaga produktif secepat mungkin.
Tentu saja, pada permulaannya, ini tak dapat dilaksanakan kecuali dengan jalan perombakan tak kenal ampun terhadap hak-hak atas milik, dan terhadap syarat produksi borjuis; oleh sebab itu dengan jalan tindakan-tindakan yang nampaknya secara ekonomi tidak mencukupi dan tak tertahankan, tetapi yang selama berlangsungnya gerakan itu, berlari lebih cepat, sehingga menghendaki perombakan yang lebih lanjut terhadap susunan masyarakat lama, dan merupakan sesuatu yang tak terelakkan sebagai cara untuk merevolusionerkan cara produksi.
Tindakan-tindakan ini tentu saja akan berlainan di negeri-negeri yang berlainan.
Biarpun demikian, di negeri-negeri yang paling maju, tindakan-tindakan yang berikut ini umumnya dapat saja diterapkan [30].
1. Penghapusan milik berupa tanah dan penggunaan segala sewa tanah untuk anggaran Negara.
2. Pajak penghasilan progresif yang berat.
3. Penghapusan hak waris.
4. Penyitaan milik semua emigran dan pemberontak.
5. Pemusatan kredit di tangan Negara, dengan perantaraan sebuah bank nasional dengan kapital Negara dan monopoli penuh.
6. Pemusatan alat-alat perhubungan dan pengangkutan ke dalam tangan Negara. 7. Penambahan pabrik-pabrik dan perkakas-perkakas produksi yang dimiliki oleh Negara; penggarapan tanah-tanah terlantar, dan perbaikan tanah umumnya sesuai dengan rencana bersama.
8. Wajib kerja yang sama untuk semua, pembentukan tentara-tentara industri, terutama untuk pertanian.
9. Penggabungan antara perusahaan pertanian dengan perusahaan industri, penghapusan berangsur-angsur perbedaan antara kota dan desa, dengan pembagian penduduk yang lebih seimbang ke seluruh negeri.
10. Pendidikan cuma-cuma untuk semua anak di sekolah-sekolah umum; penghapusan kerja anak-anak di pabrik dalam bentuknya yang sekarang ini. Perpaduan pendidikan dengan produksi materiil, dsb., dsb.
Apabila, dalam perjalanan perkembangan, perbedaan-perbedaan kelas telah hilang, dan seluruh produksi telah dipusatkan ke dalam tangan suatu perserikatan luas dari seluruh nasion, kekuasaan umum akan kehilangan watak politiknya. Kekuasaan politik, menurut arti kata yang sesungguhnya, hanyalah kekuasaan terorganisasi dari suatu kelas untuk menindas kelas yang lain. Apabila proletariat selama perjuangannya melawan borjuasi terpaksa, karena tekanan keadaan, mengorganisasi dirinya sebagai kelas, apabila, dengan jalan revolusi, ia menjadikan dirinya kelas yang berkuasa, dan, sebagai kelas yang berkuasa, menghapuskan dengan kekerasan hubungan-hubungan produksi yang lama, maka ia, bersama-sama dengan syarat-syarat ini akan menghilangkan syarat-syarat untuk adanya antagonisme-antagonisme kelas dan adanya kelas-kelas pada umumnya, dan dengan demikian akan menghapuskan kekuasaannya sendiri sebagai kelas.
Sebagai ganti dari masyarakat borjuis yang lama, dengan kelas-kelasnya beserta antagonisme-antagonisme kelasnya, kita akan mempunyai suatu persekutuan hidup di mana perkembangan bebas dari setiap orang menjadi syarat bagi perkembangan bebas dari semuanya.
III. Literatur Sosialis dan Komunis [31]
1. Sosialisme reaksioner
a. Sosialisme feodal
Disebabkan oleh kedudukanya di dalam sejarah, menjadilah panggilan suci aristokrasi Perancis dan Inggeris untuk menulis brosur-brosur menentang masyarakat burjuis modern. Dalam revolusi Perancis bulan Juli 1830, dan dalam gerakan Reform Inggeris, [32] aristokrasi ini sekali lagi takluk pada parvenu [33] yang dibenci itu. Suatu perjuangan politik yang gawat sudah tidak mungkin ada lagi sama sekali. Hanya tinggal perjuangan literaturlah yang masih mungkin. Tetapi dalam lapangan literaturpun semboyan-semboyan lama dari zaman restorasi telah menjadi tidak mungkin. [34]
Untuk membangkitkan simpati, aristokrasi itu terpaksa pura-pura melupakan kepentinganya sendiri dan merumuskan surat tuduhanya terhadap burjuasi demi kepentingan kelas buruh yang terhisap semata-mata. Jadi aristokrasi membalas dendamnya dengan menjanjikan lagu-lagu sindiran terhadap majikannya yang baru, dan membisikkan ke telinga majikanya itu ramalan-ramalan buruk tentang bencana yang akan datang.
Dengan jalan ini timbullah sosialisme feodal: setengah ratapan, setengah sindiran; setengah gema masa lampau, setengah ancaman masadatang; kadang-kadang dengan kritiknya yang pietah, pahit dan tajam menusuk burjuasi tepat pada ulu hatinya; tetapi akibatnya selalu menggelikan karena sama sekali tak mempunyai kemampuan untuk memahami perjalanan sejarah modern.
Untuk menghimpun Rakyat di sekitar dirinya, aristokrasi melambai-lambaikan kantong-pengemis proletar sebagai panji-panjinya. Tetapi sedemikian sering Rakyat mengikuti mereka, Rakyat melihat di belakang mereka lambang kebesaran feodal yang lama, dan lari bubar dengan tawa lebar dan mengejek.
Sebagian dari kaum Legitimis [35] Perancis dan kaum “Inggeris Muda” [36] memainkan lakon ini.
Dalam menunjukkan bahwa cara penghisapan mereka adalah berlainan dengan cara penghisapan burjuasi, kaum feodal lupa bahwa mereka menghisap dalam keadaan-keadaan dan syarat-syarat yang berlainan sama sekali, dan yang kini telah menjadi kuno. Dalam memperlihatkan bahwa di bawah kekuasaan mereka tak pernah ada proletariat modern, mereka.lupa bahwa burjuasi modern adalah anak keturunan yang sewajarnya dari bentuk masyarakat mereka sendiri.
Lain daripada itu, mereka sedikit sekali menyembunyikan watak reaksioner dari kritiknya sehingga tuduhan mereka yang terutama terhadap burjuasi berarti juga bahwa di bawah rezim burjuis berkembanglah suatu kelas, yang nantinya akan pasti menghancurleburkan seluruh susunan tatatertib masyarakat lama.
Kemarahan mereka terhadap burjuasi mengenai hal bahwa burjuasi melahirkan proletariat, tidak sehebat kemarahannya mengenai hal bahwa burjuasi melahirkan proletariat yang revolusioner.
Oleh sebab itu, dalam praktek politik, mereka ikut serta dalam segala tindakan kekerasan terhadap kelas buruh; dan dalam kehidupan biasa sehari-hari, biarpun ucapan-ucapannya begitu muluk tinggi membubung, mereka tidak malu-malu untuk memungut warisan buah lezat yang jatuh dari pohon industri dan tidak malu-malu pula untuk menukarkan kejujuran, cinta dan kehormatan dengan perdagangan bulu domba, perdagangan ubi-gula dan minuman-minuman keras yang terbuat dari kentang. [37]
Sebagaimana pendeta senantiasa berjalan bergandengan tangan dengan tuan tanah, demikian jugalah Sosialisme Gereja dengan Sosialisme Feodal.
Tak ada hal lain yang lebih mudah daripada memberi pulasan Sosialis pada asetisme [38] Kristen. Bukankah agama Kristen telah berseru dengan lantangnya menentang milik perseorangan, menentang perkawinan, menentang Negara? Bukankah ia, sebagai ganti semuanya itu tadi, telah mengkhotbahkan kedermawanan dan kemiskinan, pembujangan dan kebiasaan menahan nafsu, kehidupan biara dan Ibunda Gereja? Sosialisme Kristen tidak lain hanyalah air suci yang digunakan oleh pendeta untuk mengkuduskan sakit-hati kaum aristokrat.
b. Sosialisme Burjuis Kecil
Aristokrasi feodal bukanlah satu-satunya kelas yang telah diruntuhkan oleh burjuasi, bukanlah satu-satunya kelas yang syarat-syarat kelangsungannya menjadi rusak dan musnah dalam suasana masyarakat burjuis modern. Warga kota dari Zaman Tengah dan petani pemilik kecil adalah pendahulu dari burjuasi modern. Di negeri-negeri yang industri dan perniagaannya belum berkembang, kedua kelas ini masih hidup berdampingan dengan burdjuasi yang sedang tumbuh.
Di negeri-negeri di mana peradaban modern telah berkembang sepenuhnya, terbentuklah suatu kelas burjuis kecil, yang terombang-ambing di antara proletariat dan burjuasi dan senantiasa memperbarui dirinya sebagai bagian-tambahan dari masyarakat burjuis. Tetapi anggota-anggota orang-seorang dari kelas ini terus-menerus dicampakkan kedalam kalangan proletariat oleh karena persaingan, dan setelah industri modern maju, mereka itu malahan melihat datangnya saat dimana mereka akan lenyap sama sekali sebagai golongan yang berdiri-sendiri dari masyarakat modern, untuk digantikan, dalam perusahaan-perusahaan, pertanian dan perniagaan, oleh mandor-mandor, pegawai-pegawai, dan pelayan-pelayan toko.
Di negeri-negeri semacam Perancis, di mana kaum taninya merupakan bagian yang jauh lebih besar daripada separo jumlah penduduk, adalah wajar bahwa penulis-penulis yang memihak proletariat menentang burjuasi, memakai ukuran petani dan burjuis kecil dalam kritiknya terhadap rezim burjuis, dan dari segi pendirian kelas-kelas perantara ini membela kelas buruh. Dengan begitu timbullah Sosialisme burjuis kecil. Sismondi [39] adalah pemuka dari ajaran ini, tidak hanya di Perancis saja, tetapi juga di Inggeris.
Ajaran Sosialisme ini dengan sangat tajamnya mengurai kontradiksi-kontradiksi di dalam syarat-syarat industri modern. Ia menelanjangi pembelaan-pembelaan munafik dari kaum ekonomis. Ia membuktikan dengan tak dapat disangkal lagi, akibat-akibat yang mencelakakan dari mesin dan pembagian kerja; konsentrasi kapital dan tanah ke dalam beberapa tangan saja; produksi-kelebihan dan krisis-krisis ; ia menunjukkan keruntuhan yang tak terelakkan dari burjuis kecil dan tani, kesengsaraan proletariat, anarki dalam produksi, ketidakadilan yang sangat menyolok dalam pembagian kekayaan, perang pemusnahan di bidang industri di kalangan nasion-nasion, penghancuran ikatan-ikatan moral lama, hubungan-hubungan kekeluargaan lama, nasionalitet-nasionalitet lama.
Menurut tujuannya yang positif, bagaimanapun juga Sosialisme macam ini memperjuangkan hidup kembalinya alat-alat produksi dan alat-alat pertukaran lama dan bersama itu semua hubungan milik lama serta masyarakat lama, atau membatasi alat-alat produksi dan alat-alat pertukaran modern di dalam rangka hubungan milik lama yang telah dan pasti dihancurkan oleh alat-alat itu. Dalam kedua hal ini, kedua-duanya adalah reaksioner dan utopi.
Kata-kata mereka yang terakhir ialah: Gabungan gilde sebagai ganti manufaktur; hubungan-hubungan patriarkal dalam pertanian.
Akhirnya, ketika kenyataan-kenyataan sejarah yang tak dapat dibantah lagi telah menghapuskan semua pengaruh dari penipuan diri sendiri yang memabukkan, Sosialisme macam ini mengundurkan diri dengan hina dan sangat mengibakan.
c. Sosialisme Jerman atau Sosialisme “Sejati”
Literatur Sosialis dan Komunis Perancis, suatu literatur yang lahir di bawah tekanan burjuasi yang sedang berkuasa, dan yang merupakan pernyataan dari perjuangan melawan kekuasaan ini, dimasukkan ke Jerman pada suatu waktu ketika burjuasi di negeri itu baru saja memulai perjuangannya menentang absolutisme feodal.
Kaum filsuf, setengah-filsuf dan “jiwa-jiwa berbakat” Jerman dengan penuh nafsu menguasai literatur ini dan hanya lupa bahwa berpindahnya tulisan-tulisan tersebut keluar dari Perancis tidaklah disertai oleh berpindahnya syarat-syarat sosial Perancis ke Jerman. Setelah berhadap-hadapan dengan syarat-syarat sosial di Jerman, literatur Perancis ini kehilangan segala arti praktisnya yang langsung, dan hanya mempunyai corak literer semata-mata. Dengan demikian, bagi para filsuf Jerman abad kedelapanbelas, tuntutan-tuntutan Revolusi Perancis yang pertama tidaklah lebih daripada tuntutan-tuntutan “Akal Praktis” pada umumnya, dan pernyataan kemauan dari burjuasi yang revolusioner, menurut pandangan mereka berarti hukum-hukum dari Kemauan belaka, hukum-hukum dari Kemauan sebagaimana yang seharusnya, hukum-hukum dari Kemauan manusia yang sejati pada umumnya.
Tulisan-tulisan kaum literat Jerman hanya berwujud penyesuaian pikiran-pikiran baru Perancis itu dengan perasaan filsafat kuno mereka, atau lebih tepat lagi, mengambil pikiran-pikiran Perancis itu dengan tidak meninggalkan pandangan filsafat mereka sendiri.
Cara mengambilnya berlangsung sama seperti memiliki bahasa asing, yaitu dengan jalan menterjemahkan.
Umum mengetahui bagaimana rahib-rahib menuliskan riwayat hidup yang tidak masuk akal dari orang-orang suci Katolik di atas manuskrip di mana telah dituliskan karangan-karangan kelasik dari zaman purbakala ketika orang belum beragama. Kaum literat Jerman berbuat sebaliknya dengan literatur keduniaan Perancis. Mereka menuliskan filsafatnya yang tidak ada artinya itu di belakang tulisan Perancis yang asli. Misalnya, di belakang kritik Perancis tentang fungsi-fungsi ekonomi dari uang mereka tulis “Pengungkiran terhadap Kemanusiaan”, dan di belakang kritik Perancis tentang negara burjuis, mereka tulis “Penghapusan pengaruh faham abstrak pada umumnya”, dan seterusnya.
Penyelundupan kata-kata kosong filsafat ini ke dalam kritik-kritik Perancis bersejarah itu mereka namakan “Filsafat Tindakan”, “Sosialisme Sejati”, “Ilmu Jerman tentang Sosialisme”, “Dasar Filsafat Sosialisme”, dan seterusnya.
Literatur Sosialis dan Komunis Perancis dengan demikian menjadi dikebiri sama sekali. Dan oleh karena literatur ini di dalam tangan bangsa Jerman tidak lagi menyatakan perjuangan suatu kelas melawan kelas lainnya, dia merasa yakin telah mengatasi “kesepihakan Perancis” dan merasa telah mengemukakan bukan keperluan-keperluan yang sebenarnya, tetapi keperluan-keperluan akan Kebenaran; bukan kepentingan-kepentingan proletariat, tetapi kepentingan-kepentingan Dunia Kemanusiaan, Manusia umumnya, yang tidak termasuk dalam sesuatu kelas, tidak mempunyai kenyataan, manusia yang hanya terdapat di dalam dunia gelap khayalan filsafat saja.
Sosialisme Jerman ini yang telah menerima pelajarannya sebagai murid begitu sungguh-sungguh dan khidmat, dan yang telah memuji-muji dagangannya yang tak berharga itu dengan gaja tukang jual obat, sementara itu berangsur-angsur berkurang ketololannya yang congkak itu.
Perlawanan burjuasi Jerman dan terutama burjuasi Prusia terhadap aristokrasi feodal dan monarki absolut dengan perkataan lain, gerakan liberal, menjadi semakin sengit.
Dengan demikian Sosialisme “Sejati” mendapat kesempatan yang telah dinanti-nantikan itu untuk menghadapi gerakan politik dengan tuntutan-tuntutan Sosialls, untuk melemparkan kutukan-kutukan tradisionil terhadap liberalisme, terhadap pemerintah yang representatif, terhadap persaingan burjuis, kemerdekaan pers burjuis, perundang-undangan burjuis, kemerdekaan dan persamaan burjuis, dan untuk menganjurkan kepada massa bahwa mereka tak akan mendapat suatu apapun dan akan kehilangan segala-galanya dalam gerakan burjuis ini. Sosialisme Jerman yang menjadi kumandang kosong dari kritik-kritik Perancis justru lupa pada waktu itu, bahwa kritik-kritik Perancis mengandung ketentuan adanya masyarakat burjuis modern dengan syarat-syarat ekonomi hidupnya yang sesuai dan susunan politik yang disesuaikan dengan itu, ialah hal-hal yang sebenarnya harus dicapai sebagai tujuan dari perjuangan yang akan datang di Jerman.
Bagi pemerintah-pemerintah yang mempunyai kekuasaan mutlak dengan pengikut-pengikutnya yang terdiri dari pendeta-pendeta, profesor-profesor, tuantanah-tuantanah besar dan pegawai-pegawai pemerintah, Sosialisme “Sejati” ini merupakan suatu alat yang berguna untuk menakut-nakuti burjuasi yang sedang mengancam.
Ini adalah sebagai obat penawar sesudah merasakan kepedihan cambukan dan tembakan yang digunakan oleh pemerintah-pemerintah tadi, justru pada waktu itu, untuk menghadapi pemberontakan-pemberontakan kelas buruh Jerman.
Jadi selain daripada Sosialisme “Sejati” ini menjadi senjata bagi pemerintah-pemerintah itu guna melawan burjuasi Jerman, ia juga langsung mewakili kepentingan reaksioner, kepentingan burjuasi kecil Filistin [40] Jerman. Di Jerman, kelas burjuis kecil, peninggalan abad keenambelas, yang sejak itu senantiasa timbul kembali dalam berbagai bentuk, adalah dasar sosial yang sebenarnya dari keadaan-keadaan yang sedang berlaku.
Mempertahankan kelas ini berarti mempertahankan keadaan-keadaan yang sedang berlaku di Jerman. Kekuasaan industri dan politik dari burjuasi mengancam kelas ini dengan suatu kehancuran - pada satu pihak, karena konsentrasi kapital; pada pihak lain, karena timbulnya proletariat yang revolusioner. Sosialisme “Sejati” timbul untuk membunuh kedua mangsanya ini dengan satu kali pukul. Ia menjalar seperti suatu wabah.
Pakaian yang terbuat daripada jaring laba-laba yang spekulatif, disulam dengan bunga kata-kata indah yang dicelup ke dalam air perasaan hati yang merana, pakaian yang luar biasa ini yang digunakan oleh kaum Sosialis Jerman untuk membalut “kebenaran-kebenaran abadi” mereka yang tidak berharga, yang hanya tinggal kulit dan tulang belaka, dapat memperluas penjualan barang dagangan mereka secara luar biasa di kalangan publik yang semacam itu.
Dan dari pihaknya sendiri, Sosialisme Jerman makin lama makin mengakui panggilan atas dirinya sebagai wakil dari kaum Filistin burjuis kecil yang sombong.
Ia mengumumkan nasion Jerman sebagai manusia teladan dan Filistin kecil Jerman sebagai manusia teladan. Kepada setiap kerendahan budi yang keji dari manusia teladan ini ia berikan pengertian sosialis yang lebih tinggi, yang tersembunyi, yang sungguh bertentangan dengan wataknya yang sebenarnya. Ia telah bertindak sedemikian jauh hingga dengan langsung menentang aliran Komunisme yang “merusak secara ganas”, dan dengan menyatakan kebenciannya yang amat sangat dan tidak berpihak terhadap semua perjuangan kelas. Kecuali beberapa buah saja, segala yang dinamakan publikasi Sosialis dan Komunis yang sekarang (1847) beredar di Jerman termasuk dalam lingkungan literatur yang kotor dan melemahkan semangat ini. [e]
2. Sosialisme Konservatif atau Sosialisme Burjuis
Sebagian dari burjuasi berkehendak memperbaiki kepincangan-kepincangan sosial untuk menjamin kelangsungan masyarakat burjuis.
Ke dalam golongan.ini termasuk kaum ekonomis, filantropis, humanis, golongan yang bertujuan memperbaiki keadaan kelas buruh, organisator-organisator badan amal, anggota-anggota perkumpulan-perkumpulan penyayang binatang, kaum fanatis penganut kesederhanaan, kaum perombak secara tambalsulam dari segala macam corak. Dan lagi bentuk Sosialisme ini telah diolah lebih lanjut dan tersusun menjadi sistim-sistim yang sempurna.
Sebagai suatu contoh dari Sosialisme macam ini boleh disebut Philosophie de la Misère [41] dari Proudhon.
Burjuis Sosialis menghendaki segala kebaikan dan manfaat dari syarat-syarat sosial modern tanpa perjuangan dan bahaya-bahaya yang mesti timbul dari situ. Mereka menginginkan keadaan masyarakat yang sekarang tanpa anasir-anasirnya yang revolusioner dan yang mendatangkan kehancuran. Mereka menghendaki suatu burjuasi tanpa proletariat. Burjuasi tentu saja menganggap dunia di mana ia menjadi yang dipertuan sebagai dunia yang terbaik. Sosialisme burjuis mengembangkan anggapan yang menyenangkan ini menjadi berbagai sistim yang sempurna atau setengah sempurna. Dalam menghendaki supaya proletariat melaksanakan sistim semacam itu, dan supaya dengan demikian langsung memasuki Jerusalem Baru, ia dalam kenyataannya hanyalah menghendaki supaya proletariat tinggal di dalam batas-batas masyarakat yang ada sekarang, tetapi harus melemparkan segala pikiran kebenciannya mengenai burjuasi.
Bentuk yang kedua dari Sosialisme ini yang lebih praktis tetapi kurang sistimatis, mencoba mengecilkan tiap gerakan revolusioner di mata kelas buruh dengan menunjukkan bahwa bukan reform politik semata-mata, tetapi hanyalah suatu perubahan dalam syarat-syarat hidup materiil, dalam hubungan-hubungan ekonomi, yang akan mendatangkan sesuatu manfaat dan keuntungan bagi mereka. Tetapi dengan perubahan-perubahan dalam syarat-syarat hidup materiil, bentuk Sosialisme ini sekali-kali tidak mengartikan penghapusan hubungan-hubungan produksi burjuis, suatu penghapusan yang hanya dapat dilakukan dengan suatu revolusi, tetapi perbaikan-perbaikan administratif yang didasarkan pada terus berlangsungnya hubungan-hubungan produksi ini; maka itu, perbaikan-perbaikan yang sama sekali tidak mempengaruhi hubungan-hubungan antara kapital dengan kerja, tetapi paling banyak, mengurangi beaja dan menyederhanakan pekerjaan administratif pemerintah burjuis.
Sosialisme burjuis mendapat pernyataan yang selaras, jika dan hanya jika ia menjadi suatu susunan kata-kata kosong dalam pidato belaka.
Perdagangan bebas! untuk kepentingan kelas buruh; tarif-bea yang melindungi! untuk kepentingan kelas buruh; perubahan peraturan penjara! untuk kepentingan kelas buruh; inilah kata-kata yang terakhir dan satu-satunya yang sungguh-sungguh dimaksudkan oleh Sosialisme burjuis.
Ia disimpulkan dalam kata-kata: burjuis adalah burjuis - untuk kepentingan kelas buruh.
3. Sosialisme dan Komunisme yang Kritis Utopi
Kita di sini tidak membicarakan literatur yang dalam tiap revolusi besar modern selalu menyatakan tuntutan-tuntutan proletariat, seperti tulisan-tulisan Babeuf [42] dan lain-lainnya. Percobaan-percobaan langsung yang pertama dari proletariat untuk mencapai tujuan-tujuannya sendiri, yang dilakukan dalam waktu kekacauan umum, ketika masyarakat feodal sedang ditumbangkan, percobaan-percobaan ini sudah tentu gagal, oleh karena keadaan proletariat yang belum berkembang ketika itu dan juga oleh tidak adanya syarat-syarat ekonomi untuk kebebasannya, syarat-syarat yang masih harus diadakan dan hanya dapat diadakan oleh zaman burjuis yang akan datang. Literatur revolusioner yang mengikuti gerakan-gerakan yang pertama dari proletariat ini sudah tentu mempunyai watak yang reaksioner. Ia memberikan didikan asetisme universal dan didikan persamaan sosial dalam bentuk yang sangat kasar.
Sistim-sistem yang sesungguhnya dinamakan sistim Sosialis dan Komunis, yaitu sistim-sistem Saint-Simon, Fourier, Owen dan lain-lainnya, timbul pada permulaan masa belum berkembangnya perjuangan antara proletariat dengan burjuasi, seperti diterangkan di atas. (Iihat Bab I. Kaum Burjuis dan Kaum Proletar).
Para pendiri sistim ini, sesungguhnya melihat antagonisme-antagonisme kelas, dan juga melihat bergeraknya anasir-anasir yang menghancurkan bentuk masyarakat yang sedang berlaku. Tetapi proletariat, yang baru lahir ini, memberikan kepada mereka suatu gambaran dari kelas yang tidak mempunyai sesuatu inisiatif bersejarah atau sesuatu gerakan politik yang berdiri sendiri.
Karena perkembangan antagonisme kelas adalah sejalan dengan perkembangan industri, maka keadaan ekonomi, sebagaimana yang mereka ketahui, masih belum lagi memberikan kepada mereka syarat-syarat materiil untuk kebebasan proletariat. Oleh sebab itu mereka mencari suatu ilmu sosial baru, mencari hukum-hukum sosial baru, untuk menimbulkan syarat-syarat ini.
Aktivitet mencipta dari mereka sendiri harus menggantikan aktivitet sosial; syarat-syarat untuk kebebasan yang ditimbulkan menurut sejarah harus tunduk pada syarat-syarat yang bersifat khayal; dan terorganisasinya proletariat sebagai kelas yang maju secara berangsur-angsur harus tunduk pada terorganisasinya suatu masyarakat yang diangan-angankan oleh mereka sendiri. Sejarah yang akan datang, menurut pandangan mereka, menjadi propaganda dan penyelenggaraan dalam praktek dari rencana-rencana sosial mereka.
Dalam menyusun rencana-rencananya itu, mereka sudah tentu insyaf bahwa mereka terutama memperhatikan kepentingan kelas buruh sebagai kelas yang paling menderita. Mereka memandang proletariat hanya semata-mata sebagai kelas yang menderita.
Keadaan perjuangan kelas yang belum berkembang itu, maupun keadaan-keadaan sekeliling mereka sendiri, menyebabkan kaum Sosialis semacam ini menganggap dirinya jauh diatas segala antagonisme-antagonisme kelas. Mereka ingin memperbaiki keadaan tiap-tiap anggota masyarakat, bahkan juga keadaan golongan yang sudah paling beruntung. Dari itu, mereka biasa berseru kepada masyarakat seumumnya tanpa membeda-bedakan kelas; bahkan lebih suka berseru kepada kelas yang berkuasa. Sebab, jika sekali orang sudah mengerti akan sistim mereka, bagaimanakah orang itu tak akan melihat di dalamnya rencana yang terbaik dari keadaan masyarakat yang terbaik?
Oleh sebab itu mereka menolak segala aksi politik, dan terutama segala aksi revolusioner; mereka ingin mencapai tuiuan-tujuannya dengan jalan damai, dan berusaha dengan percobaan-percobaan kecil yang sudah tentu gagal, dan dengan kekuatan contoh, untuk membuka jalan bagi ajaran sosial baru ini.
Gambaran-gambaran khayal dari masyarakat masadatang yang semacam itu, yang digambarkan pada masa ketika proletariat masih berada dalam keadaan yang sangat terbelakang dan hanya mempunyai pandangan yang bersifat khayal tentang kedudukannya sendiri, adalah sesuai dengan hasrat-hasrat pertama yang naluriah dari kelas itu untuk pembangunan-kembali masyarakat secara umum.
Tetapi tulisan-tulisan Sosialis dan Komunis ini juga mengandung suatu anasir yang kritis. Mereka menyerang tiap dasar dari masyarakat yang sekarang. Oleh sebab itu mereka memberi bahan-bahan penerangan yang sangat berharga bagi kelas buruh. Tindakan-tindakan praktis yang diusulkan didalamnya - seperti penghapusan perbedaan antara kota dan desa, penghapusan keluarga, penghapusan dijalankannya industri-industri untuk kepentingan perseorangan, dan penghapusan sistim-sumpah, pernyataan tentang persamaan sosial, perubahan fungsi Negara menjadi hanya pengawas produksi saja - semua usul ini semata-mata menunjukkan hilangnya antagonisme-antagonisme kelas yang pada waktu itu baru saja mulai timbul, dan yang dalam tulisan-tulisan ini, baru dikenal hanya dalam bentuknya yang permulaan, yang hanya samar-samar dan tidak tertentu. Oleh sebab itu usul-usul tersebut sama sekali bersifat utopi.
Isi Sosialisme dan Komunisme yang kritis-utopi itu mengandung suatu tujuan yang bertentangan dengan perkembangan sejarah. Bersamaan dengan berkembangnya perjuangan kelas dan bersamaan dengan perjuangan kelas itu mengambil bentuk yang tertentu, maka hilanglah semua arti dalam praktek dan kebenaran teoritis dari pendirian khayal yang menyatakan berada diluar perjuangan, dan demikian juga serangan-serangan yang bersifat khayal terhadapnya. Oleh karena itu, walaupun para pencipta sistim-sistem ini dalam banyak hal revolusioner, pengikut-pengikut mereka senantiasa merupakan golongan-golongan reaksioner semata-mata. Mereka berpegang teguh kepada pandangan-pandangan asli dari guru-guru mereka, bertentangan dengan perkembangan kesejarahan yang progresif dari proletariat. Oleh karena itu mereka mencoba dengan konsekwen memadamkan perjuangan kelas dan mendamaikan antagonisme-antagonisme kelas. Mereka masih memimpikan pelaksanaan percobaan dari utopi-utopi sosial mereka, bermimpi tentang membentuk “phalanstere-phalanstere” [f] yang terpencil, tentang mendirikan “Home Colonies” [g] atau mengadakan suatu “Icaria Kecil” - Jerusalem Baru kecil-kecilan - dan untuk mewujudkan segala lamunan ini, mereka terpaksa meminta belaskasihan dan uang dari kaum burjuis. Ber-angsur-angsur mereka tenggelam kedalam golongan kaum Sosialis konservatif reaksioner yang telah digambarkan di atas, berbeda dengan mereka ini hanya dalam hal bahwa mereka berlagak pintar dengan lebih sistimatis, dan dalam hal kepercayaan mereka yang fanatik dan bersifat ketakhayulan kepada pengaruh yang mentakjubkan dari ilmu sosial mereka.
Oleh karena itu mereka dengan keras menentang segala aksi politik dari pihak kelas buruh; aksi yang semacam itu, menurut mereka, hanya dapat terjadi karena sama sekali tidak percaya kepada ajaran yang baru itu.
Kaum Owenis di Inggris dan kaum Fourieris di Perancis masing-masing menentang kaum Cartis [43] dan kaum Reformis. [44]
IV. Pendirian kaum Komunis dalam hubungan dengan berbagai partai oposisi
Dalam Bab II telah dijelaskan hubungan-hubungan kaum Komunis dengan partai-partai kelas buruh yang ada, seperti kaum Cartis di Inggeris dan kaum Reformer Agraria di Amerika. [45]
Kaum Komunis berjuang untuk mencapai tujuannya yang terdekat, untuk menuntut pelaksanaan kepentingan-kepentingan sementara dari kelas buruh; tetapi dalam gerakan yang sekarang mereka juga mewakili dan memperhatikan masadatang gerakan itu. Di Perancis kaum Komunis menggabungkan diri dengan kaum Sosial-Demokrat [h] menentang burjuasi yang konservatif dan radikal, tetapi dengan memegang teguh hak untuk menentukan pendirian yang kritis terhadap semboyan-semboyan dan ilusi-ilusi yang ditinggalkan turun-temurun oleh Revolusi yang besar.
Di Swis mereka menyokong kaum Radikal [46], dengan tidak melupakan kenyataan, bahwa partai ini terdiri dari anasir-anasir yang antagonistis, sebagian dari kaum Sosialis Demokrat, menurut faham Perancis, sebagian dari kaum burjuis radikal.
Di Polandia mereka menyokong partai yang mendorong revolusi agraria sebagai syarat utama untuk kebebasan nasional, menyokong partai yang mengobarkan pemberontakan Krakau dalam tahun 1846. [47]
Di Jerman mereka berjuang bersama-sama dengan burjuasi selama burjuasi itu bertindak secara revolusioner menentang monarki absolut, tuantanah feodal dan burjuasi kecil. [48]
Tetapi mereka tak pernah berhenti barang sekejappun menanamkan kedalam kelas buruh pengertian yang sejelas mungkin tentang antagonisme yang bermusuhan antara burjuasi dengan proletariat, supaya kaum buruh Jerman dapat langsung menggunakan semua syarat sosial dan politik yang tidak boleh tidak mesti ditimbulkan oleh burjuasi bersama-sama dengan kekuasaannya, sebagai senjata terhadap burjuasi, dan supaya sesudah jatuhnya kelas-kelas reaksioner di Jerman, perjuangan melawan burjuasi itu sendiri dapat segera dimulai.
Kaum Komunis mengarahkan perhatiannya terutama kepada Jerman, sebab negeri itu sedang berada dekat pada saat revolusi burjuis yang mesti akan berlangsung dalam syarat-syarat peradaban Eropa yang lebih maju dan dengan suatu proletariat yang jauh lebih maju daripada proletariat di lnggeris dalam abad ketujuhbelas, dan proletariat di Perancis dalam abad kedelapanbelas, dan oleh karena itu revolusi burjuis di Jerman tidak lain hanya akan menjadi pendahuluan dari suatu revolusi proletar yang segera akan menyusul.
Pendeknya, dimana-mana kaum Komunis menyokong tiap gerakan revolusioner menentang susunan tatatertib sosial dan politik yang sekarang. [i]
Dalam segala gerakan ini mereka mengemukakan masalah milik sebagai masalah yang pokok bagi tiap gerakan, tidak pandang derajat perkembangannya pada waktu itu.
Akhirnya, mereka bekerja dimana saja untuk persatuan dan kerukunan partai-partai demokratis di semua negeri.
Kaum Komunis tidak sudi menyembunyikan pandangan-pandangan dan cita-citanya. Mereka menerangkan dengan terang-terangan bahwa cita-citanya dapat dicapai hanya dangan membongkar dengan kekerasan segala syarat sosial yang sedang berlaku. Biarkan kelas-kelas yang berkuasa gemetar menghadapi revolusi Komunis. Kaum proletar tidak akan kehilangan suatu apapun kecuali belenggu mereka. Mereka akan menguasai dunia.
Kaum buruh sedunia, bersatulah!
http://www.marxists.org/archive/marx/works/1848/communist-manifesto/